Kecanduan Berhubungan Intim Apakah Termasuk Kelainan? Ini Penjelasannya

Para ilmuwan punya pendapat berbeda dalam menilai apakah kecanduan berhubungan intim harus dianggap sebagai kondisi klinis atau tidak

Kecanduan Berhubungan Intim Apakah Termasuk Kelainan? Ini Penjelasannya
djurnal.com
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.com - Para ilmuwan punya pendapat yang berbeda dalam menilai apakah kecanduan berhubungan intim harus dianggap sebagai kondisi klinis atau tidak.

Namun sebagian diantaranya yakin bahwa dorongan seks yang konstan dapat memberikan konsekuensi negatif bagi kesehatan manusia.

Inilah yang terungkap dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan di Universitas New England.

Mereka menemukan bahwa 3 hingga 6 persen responden memiliki masalah dalam mengatasi hasrat seksualitas mereka.

Salah satu periset, Michael Walton mengatakan bahwa tingkat seksual mereka mungkin berbeda, namun semuanya berjuang mengendalikan perilaku seksualnya. Dan hal inilah yang memicu lahirnya masalah-masalah psikis, semisal gangguan emosional.

Adapun kecanduan seksual ini tak selalu menggambarkan secara kuantitas berapa kali melakukan hubungan intim maupun berapa kali melakukan masturbasi. Namun ini lebih kepada kondisi dimana seseorang mengalami kecemasan berlebihan, sehingga memicu rasa ketidaknyamanan yang berlebihan.

Dalam laporannya disebutkan ilustrasi kasus adanya seorang remaja berusia 15 tahun yang mengalami 50 kali orgasme setiap hari.

Hiperseksualitasnya tersebut benar-benar membuatnya kelelahan, menyebabkan masalah emosional dan mengakibatkan depresi klinis yang parah.

Sementara itu, ilmuwan masih memiliki sikap yang berbeda terhadap apakah kecanduan seksual harus dianggap sebagai gangguan klinis atau tidak.

Beberapa dari mereka melihatnya sebagai gejala gangguan kepribadian yang mungkin terkait dengan kondisi serupa lainnya, seperti kecanduan narkoba atau alkohol.

Selain itu, para ilmuwan berpendapat, bahwa aspirasi untuk mendapatkan kesenangan dengan segala cara mungkin menyebabkan tidak hanya masalah psikologis, tapi juga trauma fisik organ genital. (*)

Editor: mon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help