Gumuk Pasir

Tidak Ada Pengendalian Vegetasi, Kondisi Gumuk Pasir Makin Kritis

Tidak Ada Pengendalian Vegetasi, Kondisi Gumuk Pasir Makin Kritis. Ketinggian Gumuk Pasir Terus Menurun.

Tidak Ada Pengendalian Vegetasi, Kondisi Gumuk Pasir Makin Kritis
Tribun Jogja/ Susilo Wahid Nugroho
Area Gumuk Pasir di Kawasan Pantai Parangtritis, Jumat (20/7/2018). Ketinggian gumuk pasir semakin rendah karena minimnya pasokan pasir dari sisi selatan yang terbawa angin akibat terhalang pohon. 

TRIBUNJOGJA.COM - Gumuk Pasir (Sand dunes) di pesisir Pantai Parangtritis, Bantul diambang kepunahan seiring proses pengelolaan kawasan pantai yang tak kunjung jelas.

Seperti berpacu dengan waktu, Gumuk Pasir kini bertahan di tengah pembangunan kawasan wisata yang begitu masif.

Data dari Parangtritis Geomaritime Science Park (PGSP) menunjukkan, sejak pemetaan udara dibuat tahun 1976, kawasan gumuk pasir terus mengalami penyusutan area.

Hal ini karena pertumbuhan kawasan pemukiman, tempat wisata dan tidak kunjung adanya pengendalian vegetasi.

Baca: Perjuangan Sumiyo Pertahankan Rumahnya di Lokasi Pembangunan Bandara Berakhir di Garpu Backhoe

Kepala PGSP, Nicky Setiawan menyebut, saat ini luasan gumuk pasir tersisa 141 di zona inti.

“Itu data tahun 2017, tahun 2018 belum dilakukan pengukuran. Yang jelas area gumuk pasir terus mengalami penurunan,” kata Nicky di sela kunjungan Komisi VII DPR RI di PGSP, Jumat (20/7/2018).

Indikasi bahwa area gumuk pasir sudah dalam kondisi kritis dan terus mengalami penurunan, area gumuk yang biasa untuk manasik dan salat ied saat ini semakin mengalami penurunan ketinggian.

Nicky mengatakan, hal ini disebabkan karena tidak ada pasokan pasir dari selatan ke area gumuk.

“Pasir yang seharusnya tertiup angin mengarah ke gumuk terhalang oleh tanaman yang ada di sebelah selatan. Segala bentuk bangunan entah pemukiman atau tempat wisata dan bunga yang beberapa waktu lalu sempat viral juga menghalangi pasir yang seharusnya mengarah ke area gumuk pasir,” kata Nicky.

Baca: Gelombang Tinggi Rusak Pelindung Pipa PDAM, Distribusi Air Bersih ke Tiga Kecamatan Terancam

Sayang, PGSP, menurut Nicky tak bisa berbuat banyak terkait program restorasi, eksekusi penertiban maupun penataan vegetasi maupun bangunan yang mengganggu keberadaan gumuk pasir di zona inti.

Kebijakan ini, mutlak berada di tangah pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi.

Dijelaskan Nicky, PGSP hanya merupakan badan riset yang bertugas melakukan program penelitian di area gumuk pasir.

Namun PGSP, bisa memberikan rekomendasi titik mana saja yang perlu bebas dari vegetasi atau bangunan. Nantinya, PGSP juga akan bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada. (tribunjogja)

Penulis: sus
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help