Pendidikan

SDM Indonesia Dituntut Kerja Cerdas dalam Era Disrupsi

Kerja cerdas dimaknai dengan selalu berusaha menemukan nilai tambah dari aktifitas kerja kita yang tertuang dalam alur kerja.

SDM Indonesia Dituntut Kerja Cerdas dalam Era Disrupsi
IST
Teguh Wiyono Budi Prasetyo, Ketua Umum Yayasan Pendidikan Widya Bakti Yogyakarta, sekaligus Dosen STMIK AKAKOM Yogyakarta 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Santo Ari

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kata smart (cerdas) sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari di dunia teknologi.

Misalnya genggaman tangan yang tidak bisa lepas dari smartphone dan aktifitas sehari-hari yang cenderung mengandalkan smart technology dan membuat segalanya menjadi mudah, cepat serta banyak pilihan.

Teguh Wiyono Budi Prasetyo selaku Ketua Umum Yayasan Pendidikan Widya Bakti Yogyakarta sekaligus Dosen Etika Profesi STMIK AKAKOM Yogyakarta menjelaskan teknologi sudah semakin cerdas, namun pola kerja kita kadang belum cerdas.

Baca: Punahnya Ilmu Pengetahuan Menjadi Tantangan Perguruan Tinggi di Era Disrupsi

Akibatnya banyak waktu terbuang dan kita akan tertinggal jauh di era yang seharusnya kita melakukan banyak percepatan di berbagai bidang.

"Tiga tahun lalu kita disibukkan dengan persiapan menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asean yang hingga saat ini telah kita rasakan bersama dampaknya, sedangkan dunia saat ini sedang menghadapi fenomena disruption (disrupsi), situasi di mana pergerakan dunia industri atau persaingan kerja tidak lagi linear," terangnya, Kamis (13/7/2018).

Menurutnya, bagi masyarakat yang cerdas, era disrupsi ini akan menjadi tantangan sekaligus peluang untuk menginisiasi lahirnya pola kerja baru dengan cakupan perubahannya luas mulai dari dunia bisnis, pemerintahan, perbankan, transportasi, sosial masyarakat, hingga pendidikan.

"Era ini menuntut kita untuk berubah, atau tertinggal jauh, bahkan bisa punah dan jawabannya dengan memasyarakatkan pola kerja cerdas," tambahnya.

Maka dari itu, lanjut Teguh, kerja cerdas dimaknai dengan selalu berusaha menemukan nilai tambah (value added activity) dari aktifitas kerja kita yang tertuang dalam alur kerja (work flow).

Sehingga nilai tambah ini akan menjadi prosedur kerja dan dapat terukur capaiannya.

Baca: STMIK AKAKOM Kembangkan Cloud Academy Melalui Kerjasama dengan ACCI

Ditambahkannya, nilai tambah (value added) tentunya tidak hanya diukur dari materi namun juga non materi seperti peningkatan citra, jangkauan pasar, kecepatan pelayanan, dan lain-lain.

"Namun demikian sistem kerja cerdas ini akan dapat mencapai tujuan maksimal jika diimbangi dengan sistem reward perusahaan yang fair," ucapnya.

Teguh menekankan, manfaat positif dari pola kerja cerdas ini adalah menumbuhkan budaya berprestasi, meningkatkan produktifitas dalam waktu relatif singkat, persaingan kerja yang membangun, meningkatkan kesejahteraan pekerja secara fair dan melakukan percepatan bisnis dengan capaian yang terarah dan terukur.(*)

Penulis: nto
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved