Mahasiswa UST Teliti Misteri Ramalan Cupu Panjala di Panggang, Gunungkidul

Cupu Panjala adalah sebuah benda keramat berupa peti berisi tiga guci kecil yang ditemukan di Pantai Gesing oleh Kyai Sayek

Mahasiswa UST Teliti Misteri Ramalan Cupu Panjala di Panggang, Gunungkidul
ist
Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) dengan dosen pembimbing Sigit Sujatmika, S.Pd., M.Pd., (Kepala Program Studi Pendidikan IPA) meneliti ramalan Cupu Panjala di Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul 

TRIBUNJOGJA.COM - Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) dengan dosen pembimbing Sigit Sujatmika, S.Pd., M.Pd., (Kepala Program Studi Pendidikan IPA) meneliti ramalan Cupu Panjala di Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul.

Tim PKM yang terdiri dari Septi Wijianti (Pendidikan IPA-2015), Dian Widyaningum (Pendidikan IPA-2015), dan Darto (Pendidikan Fisika-2016) tersebut mempelajari seluk beluk Cupu Panjala dan meneliti kebenaran ramalan dengan kenyataan yang terjadi setiap tahunnya.

Cupu Panjala adalah sebuah benda keramat berupa peti berisi tiga guci kecil yang ditemukan di Pantai Gesing oleh Kyai Sayek (nama asli Kyai Panjala).

Peti ini yang nantinya dibungkus beratus-ratus lembar kain kafan dan hanya dibuka satu tahun sekali dengan ritual tertentu.

Gambar-gambar yang tertera di selebaran kain kafan inilah yang menunjukkan isi ramalan masa depan dan hanya bisa dibaca oleh juru kunci Cupu Panjala.

Adapun isi ramalan meliputi beberapa aspek, seperti pertanian, politik, pertanda zaman, dan sebagainya.

Menurut Dosen Pembimbing PKM, Sigit Sujatmika, S. Pd., M. Pd., pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode etnografi.

“Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara mendalam, studi pustaka serta teknik dokumentasi,” ungkapnya.

Observasi dilakukan pada tempat asal muasal Cupu Panjala di Pantai Gesing, tempat penyimpanan Cupu Panjala di Dusun Mendak, Kembang Lampir, dan lokasi kediaman Kyai Panjala di Dusun Blimbing.

“Kebudayaan Cupu Panjala ini sebenarnya sudah berlevel nasional, terbukti saat pembukaan Cupu Panjala didatangi oleh ribuan manusia dari berbagai provinsi. Namun disayangkan banyak masyarakat lokal sendiri malah tidak tahu keberadaannya. Maka dari itu, selain penelitian tentang kebenaran ramalan, kami juga akan mengenalkan kepada masyarakat luas mengenai keberadaan Cupu Panjala supaya budaya ini tetap terlestari,” kata Septi Wijianti. (*)

Editor: dik
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved