Yogyakarta

Jejak Tabi, Platform untuk Seniman Kontemporer

Jejak Tabi adalah platform baru bagi seniman kontemporer Asia agar dapat menyajikan karya sekaligus menjalin pertukaran bermakna diantara mereka.

Jejak Tabi, Platform untuk Seniman Kontemporer
istimewa
Jejak Tabi Platform untuk Seniman Kontemporer 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Yudha Kristiawan

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Platform untuk seniman kontemporer telah hadir.

Jejak Tabi adalah sebuah platform baru yang khusus diciptakan bagi seniman kontemporer Asia agar dapat menyajikan karya mereka sekaligus menjalin pertukaran bermakna diantara para seniman Asia.

Bentuk platform ini unik karena mengambil rupa festival perjalanan yang dirancang untuk diselenggarakan di dua kota di Asia setiap tahunnya selama tiga tahun mendatang.

Baca: Pameran Cerita Bocah Sajikan Karya Seni Murni Anak Anak

Amelberga selaku Humas Jejak Tabi menjelaskan, edisi perdana akan diselenggarakan di Yogyakarta dari tanggal 13 hingga 27 Juli 2018 dan akan diteruskan ke Kuala Lumpur pada 23 hingga 30 September 2018.

Mitra-mitra lokal untuk kedua edisi ini adalah Cemeti Institut untuk Seni dan Masyarakat untuk Yogyakarta serta Damansara Performing Arts Centre (DPAC) untuk Kuala Lumpur.

"Nama Jejak Tabi diambil dari dua kelompok bahasa di Asia yang secara simbolik menyiratkan maksud untuk berakar di dalam keragaman praktik artistik seni pertunjukan kontemporer di Asia. Sedangkan jejak adalah kata di Bahasa Melayu atau Indonesia yang di dalam dua bahasa itu berbagi makna yang agak berbeda," terang Amelberga melalui siaran resmi yang diterima Tribunjogja.com, Kamis (12/7/2018).

Lanjut Amelberga, dalam Bahasa Melayu, jejak berarti melangkah atau langkah, sementara di Bahasa Indonesia lebih berarti footstep atau traces dalam padanan Bahasa Inggris.

Karakter China 旅 diucapkan 'lü' dalam Mandarin namun dalam Bahasa Jepang diucapkan 'tabi' keduanya berarti bepergian atau perjalanan.

Baca: Wadahi Bakat Anak, Tirana Kitchen Pamerkan Puluhan Seni di Pameran Cerita Bocah

Jejak- 旅 Tabi Exchange mempertanyakan kecenderungan terakhir di Asia di mana kota kota megapolitannya saling bersaing untuk menciptakan sebuah platform akbar yang berorientasi pasar dalam membingkai produksi atau pentas seni pertunjukan kontemporer Asia.

Alih-alih menekankan kerangka produksi bagi seniman agar bisa muncul di pasar-pasar seni internasional yang diagendakan oleh kecenderungan itu, Jejak- 旅 Tabi Exchange memilih menciptakan ruang-ruang kritis yang
mendorong produksi pengetahuan melalui cara saling bertukar gagasan yang menekankan prosesartistik.

Dengan mengambil tempat di kota-kota kecil di Asia, Jejak- 旅 Tabi Exchange mencoba menjawab tantangan untuk berhadapan dengan beragam realitas di dalam kota-kota tersebut, dengan harapan pengalaman seperti itu dapat membawa pemahaman yang lebih dalam tentang rumitnya membuat pertunjukan eksperimental kontemporer di seantero Asia.

Jejak-旅 Tabi Exchange adalah ruang intim di mana para seniman, praktisi (produser, kurator dan manajer seni) serta penonton dapat saling bertukar gagasan dan melibatkan diri dengan karya yang disajikan sekaligus menukik ke dalam pengertian yang lebih dalam tentang proses, konteks serta sejarah kekaryaan.

Baca: Pameran dan Kontes Bonsai di Gua Selarong, Diharapkan Mampu Dongkrak Wisatawan

Memfokuskan diri pada dua kota tertentu di Asia setiap tahunnya, Jejak-旅 Tabi Exchange memberi perhatian pada seniman-seniman Asia kunci yang berada dalam tahapan berbeda dalam karier mereka dengan cara mempertimbangkan keseluruhan perjalanan karya mereka dengan konteks global yang ikut membentuknya.

Karya para seniman yang dipersembahkan dalam Jejak-旅 Tabi Exchange akan dikontekstualisasikan melalui lingkungan sosio-kultural, historis serta estetis termasuk kesejarahan pertunjukan mereka juga, sehingga para penonton dan komunitas artistik lokal dapat memahami praktik-praktik estetika, sosio-budaya yang beragam/mirip di kawasan Asia. (*)

Penulis: yud
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help