Gunungkidul

Bupati Gunungkidul Khawatirkan Tak Ada Regenerasi Petani

Bidang pertanian menyumbang Pendapatan Daerah Regional Bruto (PDRB) terbesar di Kabupaten Gunungkidul.

Bupati Gunungkidul Khawatirkan Tak Ada Regenerasi Petani
TRIBUNJOGJA.COM / Wisang Seto
Pemberian secara simbolis bantuan alat pertanian bupati Gunungkidul Badingah kepada perwakilan kelompok tani, di halaman depan dinas pertanian gunungkidul, Rabu (11/7/2018). 

Calon Reporter Tribun Jogja, Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM,GUNUNGKIDUL - Bidang pertanian menyumbang Pendapatan Daerah Regional Bruto (PDRB) terbesar di Kabupaten Gunungkidul.

Karenanya, Bupati Kabupaten Gunungkidul, Badingah mengatakan, perlu adanya regenerasi petani.

"Banyak anak muda sekarang yang enggan untuk menjadi petani, kami tetap mengusahakan bantuan di bidang pertanian dengan alat-alat modern kerja fisik petani dapat dikurangi dan dapat menarik anak muda untuk bekerja di bidang pertanian," terangnya di sela penyerahan bantuan pertanian di Dinas Pertanian Kabupaten Gunungkidul, Rabu (11/7/2018).

Baca: BPBD Harapkan Bantuan Swasta untuk Dropping Air Bersih di Gunungkidul

Ia mengatakan dengan bantuan tersebut dapat meningkatkan produksi hasil pertanian dan dapat menyejahterakan petani.

"Untuk itu kami berusaha berkoordinasi dengan pusat maupun provinsi untuk mendapatkan bantuan alat pertanian modern," katanya.

Dalam acara pemberian bantuan alat pertanian tersebut ia mengatakan jumlah total yang diberikan berupa delapan unit cultivator, satu unit traktor roda empat, 31 unit pompa air, 30 unit traktor roda dua, dan sembilan unit power threser.

"Agar tidak salah persepsi ini adalah bantuan dari pusat yang diberikan kepada propinsi lalu didistribusikan oleh Pemerintah Kabupaten Gunungkidul," jelasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto mengatakan, juga mengkhawatirkan pemuda saat ini yang kebanyakan enggan berprofesi menjadi petani.

Baca: Kembali, Warga Gunungkidul Nekat Akhiri Hidupnya

"Kekhawatiran tetap ada tetapi di beberapa daerah anak muda membuat kelompok pertanian seperti di kelompok muda selametan kelor Karangmojo, kemudian di Semin lalu di Bleberan banyak anak muda yang menggeluti profesi sebagai petani," terangnya.

Ia mengatakan para pemuda tersebut bergelut di pertanian hortikultura seperti bawang merah, cabai.

"Mereka belajar melalui perpustakaan desa di daerah mereka, lalu mereka mempraktekkannya dan dapat berhasil serta dapat menikmati hasil dari pertanian," terangnya.

Disinggung mengenai dampak kekeringan bagi lahan pertanian ia mengatakan ada 18 hektar yang mengalami kekeringan jika di presentase hanya 0,18 persen saja.

"Total dari bulan mei masuk ke Juni total ada lahan pertanian 48 hektar tetapi yang hingga muso 18 hektar. Sebenarnya para petani sudah memprediksi kekeringan tetapi para petani tetap menanam dengan sisa air yang ada tetapi jika gagal akan difungsikan menjadi pakan ternak dan mereka tidak merugi," tuturnya.(*)

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help