Pendidikan

Gunakan Teknologi ECG dan PCG, Mahasiswa UMY Ciptakan Alat Diagnosa Jantung Portabel

Alat ini mampu merekam aktivitas bioelektrik jantung dan juga bunyi jantung sekaligus yang dilakukan secara real-time.

Gunakan Teknologi ECG dan PCG, Mahasiswa UMY Ciptakan Alat Diagnosa Jantung Portabel
Dokumentasi UMY
Kelompok Program Kreatifitas Mahasiswa - Karsa Cipta (PKM-KC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menunjukkan alat diagnosa jantung portabel. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ahmad Syarifudin

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL- Penyakit jantung (Cardiovascular Diseases) merupakan gangguan kesehatan yang sangat mungkin dialami oleh setiap orang.

Data dari World Health Organization (WHO) tahun 2012 menunjukkan ada 17,5 juta orang di dunia meninggal dunia akibat penyakit kardiovaskuler atau 31 persen dari 56,5 juta kematian di seluruh dunia.

Baca: Dosen UMY Diundang oleh British Academy ke London

Pada kasus yang terjadi di Indonesia berdasarkan data yang ditunjukkan oleh Kementrian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia tahun 2017, penyakit jantung menjadi penyebab kematian tertinggi pada semua umur untuk penyakit tidak menular.

Penyakit jantung ini dapat dihindari dengan menjaga kesehatan dengan baik, satu di antaranya dengan melakukan pengecekan berkala terhadap aktivitas jantung dengan menggunakan alat diagnosa berupa electrocardiograph (ECG) dan phonocardiograph (PCG).

Untuk memenuhi kebutuhan penunjang kesehatan tersebut, kelompok Program Kreatifitas Mahasiswa - Karsa Cipta (PKM-KC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) merancang sebuah alat diagnosa jantung portabel yang memadukan kedua teknologi ECG dan PCG.

Baca: PS HW UMY Targetkan Raih Gelar Juara pada Liga 3 Regional DIY

Ketua pelaksana kegiatan, Dede Widianto, mengatakan, alat electrocardiograph atau ECG bekerja dengan mendiagnosa aktivitas elektrik dari tubuh untuk memeriksa kesehatan jantung.

Sementara, phonocardiograph atau PCG merupakan stetoskop elektronik yang fungsinya hampir sama dengan stetoskop biasa, yaitu teknik pemeriksaan dengan cara mendengarkan bunyi akibat getaran aktivitas jantung dan gangguan pada aliran darah dalam jantung.

"Kedua alat diagnosa tersebut umumnya bekerja secara terpisah dan belum terintegrasi sehingga diagnosa yang dihasilkan kurang lengkap," ujar Dede, melalui keterangan tertulis yang diterima Tribunjogja.com, Jumat (6/7/2018).

Dari pengamatan kerja kedua alat itu, kelompok PKM-KC yang beranggotakan; Dede Widiyanto, Ida Listiyani, mahasiswa Teknik Elektromedik 2015 dan Fahmy Abdul Haq, Mahasiswa Pendidikan dokter 2014 mendapatkan ide untuk membuat EPHON CBR (Electrophonocardigraph Berbasis Rapsberry) sebagai alat diagnosa jantung yang terintegrasi.

"EPHON CBR ini merupakan inovasi yang kami tujukan sebagai solusi yang mempermudah proses pemeriksaan kondisi jantung. Alat ini mampu merekam aktivitas bioelektrik jantung dan juga bunyi jantung sekaligus yang dilakukan secara real-time. Alat ini juga memiliki fitur untuk menyimpan data hasil diagnosa, sehingga dapat dianalisa lebih lanjut nantinya," ungkap Dede.

Baca: Dosen UMY Tanyakan Ini Pada Mahasiswa Jawa Tengah, Hasilnya Mengejutkan

Lebih lanjut, Dede menjelaskan bahwa desain alat yang compact, portable, dan sederhana membuat alat ciptaannya ini mudah digunakan.

Sehingga, ia berharap alat diagnosa jantung portabel ini bisa dapat membantu program pemerintah dalam melakukan pemerataan pelayanan kesehatan untuk seluruh masyarakat Indonesia.

"Alat ini dapat menjadi solusi bagi petugas medis yang bekerja di daerah yang tertinggal, perbatasan dan kepulauan untuk membantu pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Karena umumnya fasilitas kesehatan di wilayah tersebut masih kurang sehingga diharapkan alat ini dapat membantu mobilitas dari petugas medis dalam beraktivitas," harap dia. (*)

Penulis: Ahmad Syarifudin
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help