Citizen Reporter

Postline Penasaran, Jurus Mahasiswa Ilmu Kesehatan UMS Cegah Pernikahan Dini Generasi Zaman Now

Angka pernikahan dini masih relatif tinggi di Indonesia, baik tingkat nasional (23,9%) maupun tingkat Jawa Tengah (38,65%).

Postline Penasaran, Jurus Mahasiswa Ilmu Kesehatan UMS Cegah Pernikahan Dini Generasi Zaman Now
ist
Program 'Postline Penasaran' untuk mencegah pernikahan dini di masyakarat 

TRIBUNJOGJA.COM - Banyak hasil penelitian menunjukkan ancaman kesehatan fisik dan mental pada lelaki dan terutama perempuan yang menikah di usia kurang dari 18 tahun.

Risiko terjadinya gangguan kesehatan, bahkan risiko kematian ibu dan bayi meningkat pada mereka yang menikah dini.

Angka pernikahan dini masih relatif tinggi di Indonesia, baik tingkat nasional (23,9%) maupun tingkat Jawa Tengah (38,65%).

Hal tersebut mendorong mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menerapkan inovasi literasi bertajuk Postline Penasaran.

Post Online (whatsapp group) dan Offline Pelayanan Remaja Sadar Kesehatan ini mengusung literasi guna menurunkan angka pernikahan dini.

Dengan dana dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), tim yang terdiri dari Rifqie Fauzie, Aniqoh Raudlatul Wardah, dan Indah Komala Sari di bawah dampingan dosen Dwi Linna Suswardany merealisasikan program ini di Desa Jrakah, Selo, Boyolali, Jawa Tengah.

Pada 2016 lalu, hampir separuh dari total 66 pernikahan di Kecamatan Selo teridentifikasi sebagai pernikahan dini, sementara di tahun 2017 sebanyak 18 kasus remaja perempuan mengalami kehamilan pada usia 14-20 tahun.

Data terbaru dari Ibu Siti Rokhaniah, Bidan Desa Jrakah, sejak Bulan Januari hingga Bulan Juni 2018 terdapat 23 ibu hamil usia 17-20 tahun di Desa Jrakah.

“Program 'Postline Penasaran' bertujuan membentuk kader kesehatan untuk menyampaikan risiko-risiko kesehatan akibat pernikahan dini dan informasi seputar kesehatan reproduksi. Kami memiliki dua sasaran yaitu sasaran remaja dan orang tua yang masing-masing sasaran tersebut telah menyediakan diri menjadi kader kesehatan. Para relawan inilah yang akan menjadi motor penerus program ini," ungkap Rifqie Fauzie, Ketua Tim PKM Postline Penasaran, Jumat (30/6/2018).

Program yang juga didukung oleh Youth Centre PILAR (Pusat Informasi & Layanan Remaja) ini disambut dengan antusias oleh Puskemas Kecamatan Selo dan masyarakat Desa Jrakah.

Program ini telah dan masih berjalan selama kurang lebih 2 bulan sejak Mei hingga Juli nanti.

Kepala Puskesmas Kecamatan Selo, dr. Sri Maryati menyampaikan, “Melalui kerjasama antara Puskesmas Selo dan UMS, program ini nantinya akan diteruskan sebagai program inovasi sehingga “Postline Penasaran” yang telah dirintis di satu desa dapat terlaksanakan di seluruh desa di Kecamatan Selo”.

Sementara itu Slamet, Kepala Desa Jrakah yang peduli kesehatan warganya menambahkan, “Program ini sangat bermanfaat untuk warga Desa Jrakah. Pengetahuan kesehatan warga khususnya terkait ancaman kesehatan pernikahan dini meningkat melalui program Postline Penasaran ini. Saya mewakili warga Desa Jrakah berterima kasih telah menjadikan desa kami sebagai desa rintisan program pelaksanaan Postline Penasaran”.

Warga Desa Jrakah berpikiran maju dan semangat mewujudkan generasi penerus yang lebih baik, yang menikah ketika minimal organ tubuh sudah siap di usia 18 tahun, plus menyiapkan mental bekal hidup sebagai suami-istri.

Hingga berita ini ditulis, telah terbentuk 14 kader orang tua dan 19 kader remaja yang siap menularkan informasi kesehatan reproduksi yang sudah diperoleh melalui program “Postline Penasaran” kepada keluarga dan lingkungan sekitar mereka. (*)

*Oleh: TIM Akademia PKM UMS: Rifqie Fauzie, Aniqoh Raudlatul Wardah, Indah Komala Sari

Editor: dik
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help