BMKG

Turun Hujan Meski Musim Kemarau, Ini Penjelasan BMKG

Turun Hujan Meski Musim Kemarau, Ini Penjelasan BMKG. Hujan Dipengaruhi Aktifitas Siklonik.

Turun Hujan Meski Musim Kemarau, Ini Penjelasan BMKG
IST
ilustrasi

Laporan Calon Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM - Beberapa hari ini wilayah Yogyakarta turun hujan meski sudah memasuki musim kemarau.

Menurut Prakirawan Cuaca BMKG DIY, Sigit Hadi Prakosa hal tersebut disebabkan oleh aktivitas siklonik.

"Tekanan udara rendah di Samudera Hindia bagian Barat Sumatra dan Laut Cina Selatan di Barat Kalimatan. Akibatnya terjadi perlambatan kecepatan angin di Jawa yang disebut konvergensi, sehingga terjadi pengangkatan udara basah memicu hujan di Jawa, termasuk Yogyakarta," terang Sigit Rabu (27/6/2018).

Hujan di musim kemarau, lanjutnya sangat dimungkinkan. Umumnya curah hujan di bawah 50 milimeter dalam waktu 10 hari.

Sigit menyebutnya dengan gangguan dan tidak berlanjut hingga musim hujan.

"Sejauh ini masih di bawah 50 milimeter, kalau lebih bisa terindikasi pada anomali iklim. Kalau sirkulasi siklonik ini prediksi kami hanya satu minggu, nanti akan lancar lagi,"lanjutnya.

Sigit menambahkan, hujan pada bulan musim kemarau tidak seektrim pada musim pacaroba atau musim penghujan.

Meskipun berpotensi hujan sedang, namun hanya akan terjadi lokal saja, misal di Sleman bagian utara. (tribunjogja)

Penulis: Christi Mahatma Wardhani
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved