Singgah di Masjid Bersejarah

Video Masjid Pathok Negoro Plosokuning, Dikelilingi Baluwarti Layaknya Kedaton

Video Masjid Pathok Negoro Plosokuning, Dikelilingi Baluarti Layaknya Kedaton

TRIBUNJOGJA.COM - Ketika  melawati Jl. Plosokuning Raya No 99, Desa Minomartani, Ngaglik, Sleman, kita akan mendapati bangunan pagar warna putih layaknya baluarti suatu kedaton.

Itulah Masjid Pathok Negoro Plosokuning, satu di antara empat masjid pathok negoro di DIY, yang dibangun sebelum berdirinya Keraton Yogyakarta.

USIA masjid ini hampir 3 abad. Bangunan yang masuk dalam kategori cagar budaya ini mulai dibangun pada tahun 1724.

Sampai saat ini masih kokoh berdiri ditopang oleh tiang penyangga dari kayu jati yang sebagaian besar masih asli.

Menurut KH. Baghowi, yang juga merupakan imam Masjid Pathok Negoro Plosokuning, masjid pathok negoro sendiri memiliki arti aturan negara, atau dasar hukum negara.

“Masjid Pathok Negoro Plosokuning didirikan oleh Kyai Mursodo putra dari Kyai Nur Iman yang berasal dari daerah Mlangi. Kyai Nur Iman merupakan saudara dari Sri Sultan Hamengkubuwono I. Kyai Nur Iman sendiri memiliki anak sebanyak 17,” terangnya saat ditemui Tribun Jogja.

Jika dilihat sesaat, masjid pathok negoro mirip dengan Masjid Gede Kauman. Hal tersebut dikarenakan masjid ini sempat dipindah dan dibangun ulang setelah pembangunan Masjid Gede Kauman.

Baca: Video Masjid Pathok Negoro Mlangi, Tempat ‘Mulangi’ Ajaran Islam

Atap masjid ini bermodel tumpang dan terdapat mahkota di atasnya. Jika kita lihat di Masjid Gede Kauman memiliki tumpang sebanyak tiga. Di masjid ini hanya memiliki dua tumpang.

Mengenai ciri khas masjid, seperti kolam keliling, beduk, pentongan, dan mimbar yang berada di dalam masjid, semuanya masih dipertahankan seperti dahulu kala.

“Mengenai renovasi untuk perbaikan sudah dilakukan beberapa kali itu pun atas izin dari keraton. Tapi kalau ciri khas dan masih dipertahankan dan itu atas dawuh dari keraton. Dulu lantainya sempat diganti, dulunya diplester biasa dengan semen merah, tapi di tahun 1976 diganti dengan tegel. Tiang penyangganya juga sebagian besar masih asli dan terbuat dari (kayu) jati,” jelasnya.

Halaman
12
Penulis: Siti Umaiyah
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved