Home »

DIY

Kota Yogyakarta

Panitia Reuni Perak'93 SMP 8 Yk Kunjungi Tribun Jogja

Acara reuni perak ini akan dikemas semeriah mungkin. Selain itu juga akan membangkitkan nostaligia dengan acara class tour.

Panitia Reuni Perak'93 SMP 8 Yk Kunjungi Tribun Jogja
IST
Panitia Reuni Perak'93 SMP 8 Yogyakarta mengunjungi Tribun Jogja disambut oleh Ribut Raharjo, Pemred Tribun Jogja dan Adi Satria Mahardika bagian EO Promotional Tribun Jogja (11/6/2018) 

Laporan Calon Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Panitia Reuni Perak'93 SMP 8 Yogyakarta mengunjungi Tribun Jogja, Senin (11/6/2018).

Kunjungan tersebut disambut hangat oleh Pemimpin Redaksi Tribun Jogja, Ribut Raharjo dan Divisi EO- Promotion Tribun Jogja, Adi Satria Mahardika.

Dalam kunjungan tersebut, panitia reuni yang hadir antara lain Purnomo Sudmardamto sebagai Ketua Panitia , Anis Rohmah Nurjanah sebagai Humas, dan Zaki Utama sebagai Among Guru dan Alumni.

Ketua Panitia Reuni Perak'93 SMP 8 Yogyakarta Purnomo Sudmardamto mengatakan tema yang diusung adalah Durung Suwe Uwes Selawe Paseduluran Saklawase.

Baca: Akankah Mario Goetze Reunian Bareng Klopp? Bukan Tidak Mungkin

"Kayakya baru kemarin ya, nggak terasa kok udah 25 tahun. Acaranya sih digagas sudah sejak 3 tahun lalu, akhirnya dibikin berkala saja," kata Damto.

Ia mengatakan, selain mempertemukan teman-teman satu angkatan, reuni ini juga akan mengundang guru-guru lama yang mengajar pada angkatan 1993.

"Kalau siswa dulu itu satu angkatan ada 440 orang, terdiri dari 10 kelas, jadi sekelas ada 44 siswa. Selain istilahe ngumpulke balung pisah, nanti juga ada tali asih ke guru sepuh, ada sekitar 12 guru," lanjutnya.

Acara reuni perak ini akan dikemas semeriah mungkin. Selain itu juga akan membangkitkan nostaligia dengan acara class tour.

Baca: Reuni Perak SMPN 8 Yogya, Ajang Kangen-kangenan dan Bakti Almamater kepada Sekolah

Pemimpin Redaksi Tribun Jogja, Ribut Raharjo memberikan apresiasi pada panitia Reuni Perak'93 SMP 8 Yogyakarta.

Menurutnya, mengundang guru sepuh pada acara tersebut dapat menginspirasi masyarakat.

"Istilahnya mrajake guru. Itu rohnya. Sebenarnya itu cita-cita lama dari banyak orang, dan ini bisa terrealisasi. Istilah kid jaman now itu jadinya salah, lha jadi lupa sama masa lalu," katanya.

Ia pun berharap acara dapat berlangsung dengan meriah.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Christi Mahatma Wardhani
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help