Bisnis

BNI Belum Naikkan Suku Bunga Terkait Kebijakan LPS

Segala kebijakan terkait dengan BI dan LPS, pasti akan disesuaikan oleh perbankan dan tidak menutup kemungkinan untuk menaikkan suku bunga.

BNI Belum Naikkan Suku Bunga Terkait Kebijakan LPS
TRIBUNJOGJA.COM / Yosef Leon
Pemimpin BNI Kantor Cabang Yogyakarta, R. Wawan Adinarmiharja 

Laporan Calon Reporter Tribun Jogja, Yosef Leon Pinsker

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Menyusul kebijakan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang menaikkan suku bunga penjaminan periode 6 Juni 2018 sampai 17 September 2018 sebesar 25 basis poin (bps) untuk simpanan rupiah di bank umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang menjadi 6% sedangkan untuk simpanan valas di bank umum naik 50 bps menjadi 1,25%, banyak bankir menyesuaikan kebijakan tersebut dengan turut menaikkan suku bunga simpanan mereka.

Namun, sebuah bank plat merah yakni BNI mengaku belum menaikkan suku bunga deposito dan kreditnya.

Pemimpin BNI Kantor Cabang Yogyakarta, R Wawan Adinarmiharja mengatakan segala kebijakan terkait dengan BI dan LPS, semuanya pasti akan disesuaikan oleh perbankan dan tidak menutup kemungkinan untuk menaikkan suku bunga.

"Secara bertahap pihak perbankan dan BNI pasti ada kearah sana (kenaikan suku bunga-red), tapi semuanya disesuaikan dengan operasional masing-masing, masih berproses," ujarnya, Kamis (7/6/2018).

Senada dengan Wawan, Wakil Direktur Utama BNI, Herry Sidharta juga berujar bahwa BNI untuk saat ini belum menaikkan bunga.

"Masih dilakukan evaluasi keuntungan dan kerugian terkait kenaikan bunga," kata Herry, seperti mengutip Kontan.co.id.

Sementara itu, Direktur Manajemen Risiko BNI, Bob Tyasika Ananta menjelaskan keputusan kenaikan bunga kredit ini akan segera dilakukan dalam rapat Alco (liability management committee).

"Untuk sektor atau segmen kredit mana yang akan naik lebih dulu, ini masih dihitung," imbuhnya.

Terkait kenaikan bunga kredit menurut Bob ada beberapa hal yang mempengaruhi.

Faktor pertama adalah terkait perjanjian kredit.

Dalam perjanjian kredit ini ditentukan jangka waktu atau tenor jatuh tempo kredit.

Kedua adalah faktor risiko.

Kredit yang mempunyai risiko kredit yang tinggi biasanya mempunyai suku bunga yang lebih tinggi.

Biasanya, jika Bank Indonesia (BI) mengumumkan kenaikan suku bunga acuan maka transmisinya ke suku bunga pasar memakan waktu satu sampai dua bulan. (Tribunjogja.com)

Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved