Erupsi Merapi

Dampak Merapi, Okupansi Hotel Turun 15 Persen

Meningkatnya aktivitas Gunung Merapi akhir-akhir ini berdampak terhadap kunjungan wisatawan dan menurunnya tingkat okupansi hotel di Yogyakarta.

Dampak Merapi, Okupansi Hotel Turun 15 Persen
Tribun Jogja/ Bramasto Adhy
Gunung Merapi mengalami hembusan dengan durasi 10-12 detik di Bronggang, Sleman, Sabtu (2/6/2018). 

TRIBUNJOGJA.COM - Meningkatnya aktivitas Gunung Merapi akhir-akhir ini berdampak terhadap kunjungan wisatawan dan menurunnya tingkat okupansi hotel di Yogyakarta.

Terakhir, aktivitas Merapi kembali signifikan pada Jumat (1/6/2018), tercatat ada sebanyak dua kali Merapi mengeluarkan letusan freatiknya.

Pelaku usaha hotel di Yogyakarta pun dibuat khawatir dengan meningkatnya aktifitas gunung yang terletak di perbatasan DIY dan Jateng tersebut.

Letusan Merapi membuat psikologis wisatawan menjadi terganggu dan membatalkan rencana liburannya ke Yogya.

General Manager Grand Keisha, Atik Damarjati saat dihubungi pasca erupsi mengungkapkan, sebanyak dua grup kunjungan wisatawan pada Mei lalu membatalkan kunjungannya dan memindahkan destinasinya ke Solo.

Dia pun berharap semoga erupsi Merapi tidak meningkat pada saat musim liburan mendatang.

"Semoga hanya letusan-letusan kecil saja, dan kita berharap semoga tidak ada kejadian yang mengkhawatirkan," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua DPD IHGMA DIY, Herryadi Baiin, menjelaskan bahwa tingkat okupansi hotel selama Ramadan di Yogyakarta saat ini berada di kisaran 40 persen, menurun sekitar 15 persen pada kondisi yang sama tahun lalu.

" Terkait dengan isu Gunung Merapi, jadi ada beberapa tamu yang akhirnya membatalkan kunjungannya," paparnya saat ditemui di The Rich Jogja Hotel, Sabtu (2/6/2018).

Bahkan, beberapa wisatawan mancanegara pun turut membatalkan kunjungannya, dikarenakan ada kebijakan travel warning dari negara yang bersangkutan.

"4 Mei kemarin, grup wisatawan dari Malaysia membatalkan kunjungannya, kemudian satu grup lagi memindahkan waktu kunjungannya menjadi bulan Juli mendatang," terangnya

Dia pun menyatakan prihatin terhadap kondisi Merapi saat ini, dan berharap masyarakat cerdas dalam menyebarkan informasi di media sosial, terkait dengan Merapi.

"Pada erupsi yang pertama kemarin, bahkan ada yang menyebarkan foto Merapi pada saat erupsi tahun 2010 lalu, kan bahaya informasi yang seperti itu," imbuhnya.

Ketua BPC PHRI Sleman, Joko Paromo menambahkan bahwa saat ini kondisi Yogyakarta aman untuk dikunjungi, para wisatawan juga tidak perlu khawatir secara berlebihan dengan kondisi Merapi.

"Bahkan saya kemaren survei langsung ke Cangkringan, yang radiusnya hanya beberapa KM dari Merapi, tidak ada masalah, debunya pun hanya debu biasa," ujarnya. (tribunjogja)

Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help