Pendidikan

Dosen Unisa Beri Pelatihan Produksi MP-ASI

Kegiatan ini dilakukan setelah tim dosen Unisa dari program studi keperawatan berhasil meraih hibah pengabdian masyarakat

Dosen Unisa Beri Pelatihan Produksi MP-ASI
Dok Humas UNISA
Dosen Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta memberikan pelatihan produksi dan promosi Makanan Pendamping ASI di dusun Mejing Lor Ambarketawang Gamping Sleman 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dosen Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta memberikan pelatihan produksi dan promosi Makanan Pendamping ASI di dusun Mejing Lor Ambarketawang Gamping Sleman akhir pekan lalu.

Kegiatan ini dilakukan setelah tim dosen Unisa dari program studi keperawatan berhasil meraih hibah pengabdian masyarakat Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Dikti.

Yuni Purwati selaku ketua tim dosen dari program studi keperawatan mengungkapkan alasan memilih dusun Mejing Lor sebagai tujuan pelatihan karena dilatar belakangi oleh mahasiswa Unisa yang pada tahun 2017 lalu telah melakukan praktek komunitas di Mejing Lor.

Dari data yang didapat mahasiswa, terdapat masalah di Mejing Lor bahwa ada balita di wilayah Posyandu setempat dalam kondisi di bawah garis merah pada pemantauan Kartu Menuju Sehat (KMS) Balita.

Baca: Buka Pendaftaran Hingga Agustus, UNISA Yogyakarta Berikan Beasiswa untuk 120 Mahasiswa Baru

Fenomena yang terjadi pada masyarakat di dusun Mejing Lor, yakni ibu cenderung lebih memilih memberikan MP-ASI instan yang telah tersedia berbagai rasa dan digunakan untuk berbagai tingkat usia anak.

Hal ini dianggap lebih praktis, murah dan mencukupi kandungan gizinya karena tertera jelas di kemasan MP-ASI instan.

"Ibu cenderung menjadi korban iklan MP-ASI instan yang menawarkan keunggulan bahwa anak akan menjadi lebih pintar dan sehat karena komponen gizi didalamnya serta dibuat dengan tehnologi canggih yang tidak mereka pahami," ujarnya.

Disamping itu, dengan alasan kesibukan, ekonomi dan kepraktisan dalam penyajian, banyak yang memberikan makanan dewasa seadanya kepada anaknya.

Seperti nasi lembek, bubur diberikan kuah dengan atau tanpa sayur dan lauk yang tidak sesuai dengan usia anak dan nilai gizi berdasarkan kebutuhan anak.

Selain itu, terdapat juga bayi yang mendapat makanan padat seperti pisang atau roti bayi walaupun usia belum mencukupi 6 bulan.

Halaman
12
Penulis: nto
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help