Bisnis

PLTA Batang Toru Diklaim Ramah Lingkungan

PLTA Batangtoru merupakan bagian penting dari pembangunan infrastruktur dan ekonomi di Sumatera Utara untuk memenuhi pasokan listrik masyarakat

PLTA Batang Toru Diklaim Ramah Lingkungan
Batangtoru.org
Ilustrasi PLTA Batang Toru 

Laporan Reporter Tribun Jogja Wahyu Setiawan Nugroho

TRIBUNJOGJA.COM - Pemanasan global telah menjadi suatu polemik yang ramai didiskusikan di berbagai belahan dunia pada beberapa tahun terakhir.

Hal ini juga membuat pemerintah Indonesia mencanangkan untuk mencapai target 23% energi terbarukan pada tahun 2025.

PLTA Batangtoru yang akan dibangun dan diperkirakan akan selesai pada tahun 2022, membantu menjawab krisis pemanasan global tersebut dengan mengurangi emisi karbon sebanyak 1,6 Megaton CO2 pada saat beroperasi.

Dalam konteks global, pembangunan PLTA Batangtoru akan mengakomodasi agenda internasional yang tertuang dalam kriteria Sustainble Development Goals (SDGs) sesuai ketetapan PBB tahun 2015.

Baca: Proyek PLTA Bulungan Berpotensi Tenggelamkan Dua Desa

PLTA Batangtoru yang dikembangkan dan dirancang dengan daya terpasang 510 MW yang berasal dari Kolam Harian berukuran kecil seluas 90 ha telah memenuhi sejumlah persyaratan pemerintah Indonesia seperti perizinan terkait analisis mengenai dampak lingkungan (amdal), analisa risiko lingkungan, aspek-aspek sosial dan lingkungan hidup serta perizinan lain terkait lingkungan dan pembangunan.

Pernyataan itu dikemukakan Agus Supriono, Manajer Humas PT North Sumatra Hydro Energi (NSHE) yang merupakan pemilik PLTA Batangtoru pada keterangan tertulis di Jakarta, Senin (14/5/2018).

Agus mengungkapkan, PLTA Batangtoru dibangun pada Area Penggunaan Lain (APL) dan secara hukum bukan merupakan kawasan hutan.

APL Batangtoru merupakan kawasan yang dicadangkan dan dialokasikan pemerintah provinsi Sumut dan mendapatan persetujuan Kementerian Lingkungan Hidup dan kehutanan (KLHK) untuk dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik.

Baca: Turbin PLTA Mrica Hanya Mampu Beroperasi Empat Jam

"Kami sangat memahami hutan merupakan bagian penting untuk menjaga suhu bumi agar tidak naik. Untuk itu, kami tidak akan pernah mengorbankan hutan apalagi hutan primer dan kawasan konservasi serta merusak keanekaragaman hayati dalam pembangunan PLTA. Hal ini sudah menjadi komitmen
kami sejak awal," kata Agus.

Halaman
123
Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help