Pendidikan

CfDS FISIPOL UGM Sebut Netizen Indonesia Masih Lemah Terhadap Literasi Digital

Cuitan opini yang dimaksud adalah cuitan yang dibuat langsung oleh pengguna Twitter terkait isu tertentu.

CfDS FISIPOL UGM Sebut Netizen Indonesia Masih Lemah Terhadap Literasi Digital
Tribun Jogja/ Alexander Ermando
Executive Secretary CfDS FISIPOL UGM, Viyasa Rahyaputra, saat memaparkan hasil riset hari Senin (14/05/2018) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Alexander Ermando

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pada pemaparan hari Senin siang (14/05/2018), Culture for Digital Culture (CfDS) FISIPOL UGM juga menyampaikan hasil penelitian terhadap pengguna Twitter Indonesia.

"Berdasarkan penelitian kami di media sosial Twitter, cuitan non-opini mendominasi sebesar 57 persen dari cuitan opini," ungkap Viyasa Rahyaputra, Executive Secretary CfDS.

Cuitan opini yang dimaksud adalah cuitan yang dibuat langsung oleh pengguna Twitter terkait isu tertentu.

"Sementara cuitan non-opini biasanya hanya berupa retweet, dengan atau tanpa tambahan opini pengguna," jelas Viyasa.

Berdasarkan hasil riset CfDS pada pengguna Twitter terkait isu UU MD3, mereka banyak membagikan cuitan yang dibuat oleh para buzzer di Twitter.

Buzzer ini biasanya memiliki identitas yang tidak jelas, serta sering membagikan berita-berita yang sumbernya patut dipertanyakan.

Berita-berita yang dibagikan pun biasanya terkait isu politik dengan judul-judul yang terbilang sensasional dan sangat menarik perhatian massa.

"Judul-judul berita inilah yang menarik minat para netizen untuk melakukan retweet," kata Viyasa.

Selain itu, para buzzer yang tidak memiliki identitas yang jelas juga membuat pengguna aslinya sulit untuk ditelusuri.

"Ini juga menurut kami yang menjadi halangan pemerintah dalam membasmi akun-akun penyebar hoaks," kata Viyasa lagi.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa netizen Indonesia masih belum memiliki edukasi yang kuat tentang media digital. Sebab mereka menyebarkan informasi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.

Viyasa pun berharap agar para netizen bisa mengolah, memproses, serta menganalisis makna dari informasi yang didapat sebelum menyebarkannya ke publik.

"Keminfo juga meminta agar kita jangan hanya bijak dan bertanggung jawab, tetapi harus tahu bagaimana cara mengolah informasi," tutur Viyasa.(*)

Penulis: Alexander Aprita
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help