Pendidikan

SMA Bopkri 2 Yogyakarta Berkomitmen Sebagai Sekolah Multikultur Indonesia

Lulusan SMA BOPKRI 2 Yogyakarta, merupakan lulusan yang memiliki karakteristik dengan nilai-nilai berintegritas.

SMA Bopkri 2 Yogyakarta Berkomitmen Sebagai Sekolah Multikultur Indonesia
Tribun Jogja/ Noristera Pawestri
Prosesi wisuda purna siswa SMA Bopkri Dua Yogyakarta, di Hotel Phoenix Yogyakarta, Jumat (11/5/2018) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Noristera Pawestri

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - SMA Bopkri 2 Yogyakarta menggelar Wisuda Purna Siswa Tahun Ajaran 2017/2018 di Hotel Phoenix Yogyakarta pada Jumat (11/5/2018).

Wisuda diikuti okeh 139 siswa jurusan IPA, IPS dan Bahasa.

Dalam sambutannya, Kepala SMA Bopkri 2 Yogyakarta, Sri Sulastri menyampaikan, lulusan SMA BOPKRI 2 Yogyakarta, merupakan lulusan yang memiliki karakteristik dengan nilai-nilai berintegritas.

"Pelayanan dan Kasih yang terintegrasi dengan nilai peduli sesama, empati, cinta bangsa negara yang kami sebut dengan Sekolah Multikultur Indonesia," paparnya.

Lebih lanjut pihaknya mengatakan, Multikultur bukan sekadar potret Indonesia kecil, namun lebih dari itu, bahwa SMA BOPKRI 2 bertujuan untuk memberi kesempatan yang setara bagi semua siswa tanpa memandang latar belakangnya.

"Sehingga semua siswa dapat meningkatkan kemampuan secara optimal sesuai ketertarikan, minat dan bakat yang dimiliki," imbuh dia.

Ditambahkannya, istilah pendidikan multikultural menggambarkan berbagai program dan praktik yang terkait dengan pemerataan pendidikan, perempuan, kelompok etnis, minoritas bahasa, kelompok berpendapatan rendah, dan disabilitas.

Pendidikan multikultural adalah pendidikan yang berkeadilan sosial, memberikan pengalaman belajar sehingga anak dapat berkembang secara optimal.

"Semuanya dapat kami wujudkan jika terjadi hubungan yang sinergi antara institusi dan orangtua siswa," kata dia.

Ia menjelaskan, dalam hal ini orangtua paham dan mengetahui pelaksanaan proses belajar serta aktivitas anak, sehingga tidak terjadi perbedaan pandangan atau model pengajaran yang bertentangan.

Menurutnya, proses belajar anak memungkinkan anak menjadi kritis dan konstruktif, hal ini karena anak memiliki keterampilan untuk dimanfaatkan dan mengimplementasikan ilmu yang dikuasai.

"Untuk itu orang tua siswa memiliki peran penting dalam menghadapi perubahan karena proses belajar, sehingga berhasil secara optimal," jelasnya.

Pihaknya berharap, para siswa dapat mencapai cita-cita dan menjadi orang yang berintegritas, dan pelayan masyarakat, yang penuh kasih.

"Kami menitipkan nama besar SMA BOKPRI 2 Yogyakarta untuk dijaga," terangnya. (*)

Penulis: Noristera Pawestri
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help