Gunungkidul

Ratusan Warga Ikuti Festival Katok Abang

Festival ini berlangsung tiap tahunnya, dengan tujuan untuk mengingatkan para warga mengenai perjuangan masyarakat sekitar

Ratusan Warga Ikuti Festival Katok Abang
TRIBUNJOGJA.COM / Wisang Seto
Peserta mengikuti upacara bendera saat festival Katok Abang pada Kamis (10/5/2018) di pantai Watu Kodok 

Laporan Calon Reporter Tribunjogja Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Festival Katok Abang (celana merah) sebagai pengingat warga untuk menjaga kelestarian pantai dan melawan investor yang masuk ke pantai Watu Kodok Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul, digelar pada Kamis, (10/5/2018).

Menurut Pantauan Tribunjogja.com ada ratusan warga yang mengikuti festival tersebut, diawali para peserta festival berjalan kaki dari balai desa Kemadang menuju pantai Watu Kodok.

Sesampainya di pantai mereka menggelar upacara bendera, para peserta menggunakan baju seragam sekolah dasar lengkap dengan atributnya seperti topi dan dasi.

Sesepuh Pantai Watu Kodok, Yahya Yusmadi festival ini berlangsung tiap tahunnya, dengan tujuan untuk mengingatkan para warga mengenai perjuangan masyarakat sekitar dalam melawan investor yang hendak masuk dan menggusur masyarakat.

Baca: Ini Kronologis Karamnya Kapal di Pantai Watu Kodok

"Festival ini diselenggarakan untuk mengingat kembali 3 tahun lalu bahwa masyarakat sekitar watu kodok berjuang melawan investor yang masuk," terangnya.

Ia pun berharap festival yang telah berlangsung sebanyak tiga kali ini mampu menambah semabgat masyarakat agar terus berjuang mempertahankan tempatnya dari masuknya investor.

"Awalnya paguyuban hanya berjumlah 97 orang tetapi seiring berjalannya waktu bertambah, dan sekarang berjumlah 150 orang, warga tetap semangat menjaga pantai watu kodok, dengan menjaga kebersihan pantai," terangnya.

Selanjutnya ia menjelaskan bahwa ada aturan pelarangan menebang pohon di sekitaran pantai Watu Kodok.

Baca: [TRAVEL] Menikmati Dua Panorama Pantai nan Eksotis dari Bukit Karang Pantai Watu Kodok

"Warga dilarang untuk menebang pihon karena alam telah menjaga kita, kita juga harus menjaga alam," imbuhnya.

Seorang warga bernama Warso mengungkapkan dirinya bersama warga menolak investor karena sudah lama mengelola Pantai Watu Kodok dan hasilnya untuk kesejahteraan warga sekitar.

"Pada tahun 1970an area pantai ini difungsikan sebagai pertanian namun berjalannya waktu pada tahun 2010 pariwisata mulai berkembang, warga lalu mbersihkan area pantai lalu beralih fungsi sebagi objek wisata," tuturnya.

Karena semakin maju pariwisata warga beralih profesi yang dulunya petani menjadi pedagang makanan, hingga menyewakan toilet.

"Sekitar 3 tahun lalu ada investor yang mengaku mengantongi izin hendak menggusur warga dari pantai watu kodok, kami tidak menginginkan investor masuk kami hanya ingin hidup tentram serta alam dapat dinikmati oleh anak cucu kita," katanya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help