Fasilitas Umum

Telan Miliaran Rupiah, Toilet Titik Nol Kilometer Belum Sepenuhnya Ramah Bagi Penyandang Disabilitas

Telan miliaran rupiah, toilet Titik Nol Kilometer belum sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas

Telan Miliaran Rupiah, Toilet Titik Nol Kilometer Belum Sepenuhnya Ramah Bagi Penyandang Disabilitas
Tribun Jogja/ Rizki Halim
Anggota Bidang Pemantauan dan Layanan Pengadaan, Komite Perlindungan Hak-hak Disabilitas DIY, Winarto saat melakukan audit ke toilet Titik Nol Kilometer, Senin(16/4/2018). 

TRIBUNJOGJA.COM - Dibangun dengan dana milyaran rupiah, nyatanya beberapa fasilitas yang ditujukan untuk penyandang disabilitas, pada toilet umum di Titik Nol Kilometer belum seluruhnya ramah bagi mereka.

Hal tersebut dijumpai saat Anggota Bidang Pemantauan dan Layanan Pengadaan, Komite Perlindungan Hak-hak Disabilitas DIY melakukan audit ke toilet yang baru diresmikan bulan Januari lalu tersebut.

"Ada beberapa hal yang masih dirasa kurang tepat, antara lain guide box yang diperuntukan bagi tuna netra yang terlalu mepet dengan tangga, dikhawatirkan hal tersebut justru membahayakan, selain itu, besi pegangan yang juga terputus di tengah, hal tersebut juga membahayakan bagi tuna netra," terang Anggota Bidang Pemantauan dan Layanan Pengadaan, Winarta, Senin (16/4/2018).

Baca: Perlu Diketahui, Ini Makna Labuhan Ageng Parangkusumo

Lebih lanjut, selain guide block yang dianggap terlalu dekat dengan tangga untuk turun, di dalam toilet juga tidak ada guide block yang berfungsi memberikan arahan kepada penyandang tuna netra menuju toilet disabilitas.

"Seharusnya tidak hanya di luar, di dalam ruangan pun juga harus ada guide block sehingga penyandang tuna netra tahu dimana toiletnya," lanjut Winata.

Pegawai yang bertugas untuk menjaga toilet di Titik Nol Kilometer juga tidak lepas dari hal yang disoroti kali itu.

Karena pada dasarnya, penjaga toilet dalam hal ini harus mampu melakukan tugasnya dengan baik, termasuk dengan memberikan bimbingan dengan penyandang disabilitas.

Sehingga nantinya hal tersebut dapat mengimbangi dengan fasilitas yang sudah dimiliki oleh toilet yang cukup mewah tersebut.

"Persoalan aksesbilitas bukan hanya fisik, tapi juga non fisik, sarana harus dengan mudah diakses semua orang dengan mandiri," papar Winarta.

"Pelayanan penjaga toilet sudah baik dan ramah, tapi perlu ditambah pengetahuan apa yang harus dilakukan ketika ada pengunjung difabel, kalau perlu dibuat SOP bagi pegawai," lanjutnya.

Winarta menambahkan, selama ini yang menjadi persoalan sehingga banyak tempat yang sebenarnya sudah memiliki aksesbilitas bagi penyandang disabilitas, namun belum maksimal, karena tidak melibatkan penyandang disabilitas saat membangun sebuah bangunan.

"Saat membangun, disabilitas harusnya dilibatkan karena sesungguhnya disabilitas adalah orang yang nantinya akan menggunakan fasilitas tersebut," pungkas Winarta. (tribunjogja)

Penulis: Rizki Halim
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved