Lipsus Pengembang Siasati Amdal

Siasati Amdal, Pengembang Apartemen di Yogya Ganti Nama Proyek

Jika sebelumnya apartemen ini dinamakan Taman Melati Sardjito, belakangan namanya berubah menjadi menjadi apartemen Dhika Universe.

Siasati Amdal, Pengembang Apartemen di Yogya Ganti Nama Proyek
TRIBUNJOGJA.COM / Hening Wasisto
Suasana lahan calon pembangunan apartemen di Jalan Prof dr Sardjito Terban Gondokusuman, Minggu (15/4/2018) siang. 

TRIBUNJOGJA.COM - Rencana proyek apartemen Taman Melati Sardjito di Jalan Prof Dr Sardjito yang pernah disosialisasikan ke warga Terban sejak beberapa tahun lalu, hingga kini masih ditolak warga.

Senada dengan penolakan warga, proyek tersebut juga gagal berlanjut setelah pengembang gagal mengantongi analisis dampak lingkungan (AMDAL).

Namun pengembang tampaknya belum putus asa untuk mengegolkan proyek apartemen ini.

Setelah gagal dalam sidang AMDAL, PT APP (Adi Persada Property) selaku pengembang kembali mengajukan permohonan AMDAL dengan mengganti nama proyek.

Jika sebelumnya apartemen ini dinamakan Taman Melati Sardjito, belakangan namanya berubah menjadi menjadi apartemen Dhika Universe.

Sekretaris forum warga penolak pembangunan hotel dan apartemen di Kampung Terban, Tulus Wardaya menceritakan, sejak akhir 2017 lalu PT APP mengganti nama baru proyek tersebut menjadi apartemen Dhika Universe.

Penggantian nama itu dibarengi dengan proses pengajuan AMDAL baru dan pengadaan sidang AMDAL pada 29 Maret 2018.

"Apartemen Dhika Universe adalah nama baru. Mereka belum pernah kula nuwun ataupun sosialisasi ke warga. Tidak ada persetujuan warga yang bersinggungan. Tidak ada penggalian kuesioner ke warga. Intinya masih banyak masalah yang belum terselesaikan, namun kenapa bisa mengajukan sidang AMDAL," kata Tulus kepada Tribun Jogja, pekan kemarin.

Tulus juga menyebut pengembang melakukan berbagai upaya agar pembangunan hotel dan apartemen dengan nama baru ini lolos.

Bahkan ia menyebut, pengembang memberikan stimulan uang Rp6 juta kepada warga agar menyetujui apartemen tersebut.

"Warga diiming-imingi uang Rp6 juta agar menyetujui. Hingga akhirnya mayoritas warga menyetujui pembangunan apartemen," ungkap Tulus. (*)

Penulis: sis
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help