Kota Yogyakarta

PHRI DIY Dorong Hotel Dukung Gandeng Gendong

PHRI DIY telah menandatangani nota kesepahaman dengan Pemerintah Kota Yogyakarta terkait Program Gandeng Gendong.

PHRI DIY Dorong Hotel Dukung Gandeng Gendong
Istimewa
Ketua PHRI Istidjab M Danunagoro

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY telah menandatangani nota kesepahaman dengan Pemerintah Kota Yogyakarta terkait Program Gandeng Gendong.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Istidjab Danunagoro menjelaskan bahwa dengan adanya nota kesepahaman tersebut, pihaknya akan mendorong hotel-hotel di Kota Yogyakarta untuk mendukung program Gandeng Gendong.

"Paling tidak di lobi ada corner di mana UMKM tadi bisa menampilkan produknya untuk dipasarkan ke hotel, apakah camilan atau minuman kemasan," ujarnya, Senin (16/4/2018).

Terkait hal tersebut, Istijab mengatakan bahwa pihak hotel meminta agar produk UMKM yang dipamerkan tersebut ada yang menjaga dari pihak warga.

Namun Istijab menekankan bahwa pihak hotel tidak perlu menarik biaya kepada warga.

"Kalau nanti laku, hotel mendapat komisi," ucapnya.

Istijab mengaku bahwa pihak hotel tidaj bisa membeki langsung produk UMKM dari warga.

Pasalnya tidak semua produk tersebut nantinya bisa digunakan untuk keperluan hotel guna melayani tamu.

"Kecuali minuman ya. Kalau minuman sekamat datang saya rasa hotel bisa," ungkapnya.

Ia menuturkan, sudah ada 3-4 hotel berbintang yang sudah menyatakan kesiapannya untu bisa mendukung progran gandeng gendong dengan cara menyediakan pojok atau corner khusus untuk memajang produk UMKM.

"Kami sedang berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan dan Koperasi supaya nanti pelaku UMKM melakukan presentasi dulu ke pihak hotel. Usulan kami juga nantinya tidak hanya produk yang dipajang, tapi ada presentasi produk kepada tamu hotel," bebernya.

Selama ini, lanjutnya, sebenarnya beberapa hotel di Kota Yogyakarta telah melakukan kerjasama dengan pelaku UMKM hanya saja bentuknya bukan Gandeng Gendong.

"Jadi dulu itu sudah berjalan tapi lebih ke kerajinan. Ada batik tapi dilihatkan cara membatik menggunakan canting. Lalu juga kerajinan perak dan sebagainya," urai Istidjab.(*)

Penulis: kur
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help