Home »

DIY

» Bantul

Kendaraan Shuttle ke Mangunan Sejenis Avanza

Sistem ini rencananya diterapkan tahun 2019 setelah penataan kawasan Terminal Imogiri selesai tahun ini.

Kendaraan Shuttle ke Mangunan Sejenis Avanza
TRIBUNJOGJA.COM / Susilo Wahid
Wisatawan memadati kawasan Hutan Pinus Mangunan, Selasa (26/12/2017). Hutan Pinus menjadi salah satu spot wisata favorit kawasan RPH Mangunan yang menawarkan taman bunga dan pohon pinus. 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Penerapan sistem kendaraan shuttle pengganti bus kapasitas 50 bagi wisatawan yang menuju Kawasan Wisata Mangunan tinggal menunggu realisasi.

Sistem ini rencananya diterapkan tahun 2019 setelah penataan kawasan Terminal Imogiri selesai tahun ini. 

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bantul Aris Suharyanto, Jumat (6/4/2018) mengatakan, kendaraan shuttle menjadi solusi mengurangi potensi kecelakaan di jalur Imogiri-Mangunan. Pasalnya jalur ini dianggap tak layak dilewati bus besar kapasitas 50 karena menanjak dan sempit. 
Kendaraan shuttle ini akan ditempakan di shelter yang berlokasi di kawasan Terminal Imogiri.
"Jadi nanti bus besar kapasitas 50 cuma bisa sampai ke shelter, tidak boleh naik. Menuju Mangunan, wisatawan harus berganti naik kendaraan shuttle yang sudah ada di shelter," kata Aris. 
Namun Aris nampak belum bisa menjelaskan secara jelas bagaimana teknis operasional kendaraan shuttle ini.
Pasalnya, sistem pengoperasian sistem ini masih akan dibahas lebih terperinci.
Hanya saja, ia sudah bisa memberikan gambaran bagaimana penerapan sistem ini. 
Seperti spesifikasi kendaraan shuttle yang nanti akan dipakai, Aris memberi gambaran jenisnya adalah mobil kecil  kapasitas delapan orang.
"Sebenarnya tidak ada spesifikasi khusus, asalkan kendaraan roda empat dan layak jalan, mungkin seperti avanza atau sejenisnya," kata Aris. 
Namun yang menjadi catatan Aris, kendaraan shuttle yang nanti dipakai mengangkut wisatawan ini harus lulus uji KIR yang dilakukan Dishub.
Ini demi mempertimbangkan faktor kenyamanan dan keamanan mengingat untuk melintas jalur Mangunan membutuhkan kendaraan yang prima. 
Soal teknis pengelelolaan kendaraan shuttle, Aris memberi gambaran bahwa nantinya kendaraaan tersebut dikelola oleh secara terpusat.
Meski kendaraan shuttle bisa dari milik pribadi, namun semua driver dan kendaraan harus terdaftar.
Artinya, tidak sembarang mobil bisa menjadi kendaraan shuttle. 
Soal biaya operasional kendaraan shuttle ini, Aris condong untuk tetap menerapkan sistem tarif.
"Tetap ada tarif tapi kita upayakan agar terjangkau dan tidak memberatkan wisatawan. Yang jelas akan kita pertimbangkan semua sisi terkait sistem shelter ini," kata Aris. 
Seperti diketahui, tarif kendaraan shuttle menuju Mangunan ini sempat menjadi sumber kekhawatiran Dinas Pariwisata (Dinpar) Bantul.
Pasalnya, menarik tarif untuk naik kendaraan shuttle kepada wisatawan menuju Mangunan berpotensi menurunkan tingkat kunjungan mereka. 
Dinpar pun berharap ada kajian mendalam sebelum sistem shuttle ini diterapkan.
"Kita pahami tujuan sistem shuttle untuk keamanan wisatawan, tapi kami ingin ada pertimbangan soal tarif agar tingkat kunjungan wisatawan tetap terjaga," kata Plt Kepala Dinpar Bantul, Kwintarto.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: sus
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help