Home »

DIY

Kereta Bandara Yogya Memiliki Peluang Lebih Besar

Peluang KA Bandara NYIA lebih besar karena posisinya yang bisa memecah penumpang baik dari Yogyakarta maupun dari barat.

Kereta Bandara Yogya Memiliki Peluang Lebih Besar
TRIBUNJOGJA.COM / Rento Ari
Ketua MASKA Pusat, Hermanto Dwiatmoko 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pembangunan kereta api khusus bandara yang akan menghubungkan kota Yogya dan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo diprediksi akan memiliki peluang lebih besar dibandingkan KA bandara lainnya.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Masyarakat Perkeretaapian Indonesia (MASKA) Pusat, Hermanto Dwiatmoko, Rabu (28/3/2018) di sela International Seminar: Railway yang digelar oleh Masyarakat Perkeretaapian Indonesia (MASKA) dan UGM di Gedung Pascasarjana Fakultas Teknik UGM, Rabu (28/3/2018).

Menurut Hermanto, peluang KA Bandara NYIA ini akan diminati masyarakat lebih besar.

Sebab posisinya yang bisa memecah penumpang baik dari Yogyakarta maupun dari barat misalnya dari Banyumas hingga Kebumen.

"Belajar dari pengalaman dua KA Bandara yang sudah ada yakni di Medan dan Jakarta, load factornya tidak terlalu bagus. Di Jakarta sendiri masih di bawah 50 persen. Ini disebabkan karena budaya naik kereta bandara yang belum terbentuk. Misalnya saja di sini masih umum keluarga ramai-ramai mengantar ke bandara," ungkapnya.

Mantan Dirjen Perkeretaapian Kemenhub ini mengungkapkan, peluang KA Bandara NYIA lebih besar karena kondisi di DIY.

Ditolaknya rencana pembuatan jalan tol menjadi peluang yang bisa dimanfaatkan.

"Kalau masyarakat mau pakai jalan raya ke bandara kan lumayan juga jaraknya. Karena itu peluangnya saya rasa lebih besar di sini," tegasnya.

Namun demikian Hermanto meminta operator KA Bandara nantinya tetap memperhatikan beberapa hal misalnya operasional, keamanan dan pelayanan.

"Di luar negeri, penumpang bisa check ini sejak di stasiun. Kalau bisa, ini akan mempermudah penumpang. Check in awal, koper pun bisa langsung diangkut," pungkasnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: toa
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help