INSPIRASI

Meneladani Kekhusyukan Ulama Masyhur Kyai Siroj Payaman

Pondok Payaman berjarak tempuh lebih kurang 30 menit dari pusat Kota Magelang, lokasinya berada di pinggir jalan raya Magelang-Secang

Meneladani Kekhusyukan Ulama Masyhur Kyai Siroj Payaman
www.nu.or.id
KH Siroj Payaman berdiri di belakang KH Dalhar Watucongol (depan) 

Pondok Payaman berjarak tempuh lebih kurang 30 menit dari pusat Kota Magelang, lokasinya berada di pinggir jalan raya Magelang-Secang. Satu dari sekian banyak ponpes tua yang berada di Magelang.

KIAI Siroj, Payaman, Magelang yang oleh masyarakat masyhur dengan panggilan Romo Agung merupakan orang yang dikenal kewaliannya. Namun, di balik keramat yang ia miliki, ada ibadah yang sangat kuat, di luar kebiasaan orang pada umumnya.

Satu ketika, Kiai Siroj berkunjung ke rumah salah satu temannya, KH Dardiri dari Tingkir, Kota Salatiga. Waktu itu, desa ini masih mengikuti wilayah Kabupaten Semarang.

Di rumah Kiai Dardiri ini, selain Kiai Siroj, Payaman, ada Kiai Munajat yang turut hadir di sana. Ketiga kiai yang berkumpul dalam satu majelis tersebut mempunyai hubungan yang akrab.

Sesaat sebelum melaksanakan salat Isya', Kiai Siroj tahu bahwa tuan rumah sedang memasak, mempersiapkan jamuan. Diperkirakan, nanti jamuan akan disajikan setelah shalat Isya' dilaksanakan sehingga pas.

Seusai salat isya', Kiai Siroj ternyata tidak lekas beranjak dari tempat sujudnya. Ia tidak hanya ssalat beberapa rakaat ba'diyah atau shalat witir. Ia menyambung dengan salat-salat sunah. Dua kiai lain, Kiai Dardiri dan Kiai Munajat hanya menunggu sambil berbincang bersama di luar.

Pukul 02.00 dini hari, Kiai Siroj baru selesai melaksanakan salat-salatnya. Ia bertanya kepada tuan rumah, "Lha, masakannya apa sudah matang?"

Sangat tampak, Kiai Siroj seperti orang yang baru melaksanakan salat lima atau sepuluh menit. Tidak heran jika ia bertanya masakannya sudah matang apa belum. Padahal, dua kawannya yang lain sudah menunggu berjam-berjam. Oleh Kiai Siroj dikira baru beberapa menit.

Karena Kiai Siroj sudah mencapai maqam kelezatan dalam beribadah, mencapai ekstase tinggi, shalat yang begitu lama dikira baru sebentar saja.

Tidak cukup di situ. Untuk membuktikan kewalian dan kedekatannya kepada Allah dan jauhnya hati dengan dunia, Kiai Dardiri mencoba berbisik kepada Kiai Munajat.

Halaman
12
Editor: iwe
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved