Terkait Investasi, Thomas Lembong Imbau Pemda DIY Mencontoh Provinsi Lain yang Lebih Maju

DIY menjadi satu provinsi yang masuk dalam perluasan implementasi Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi (KLIK).

Terkait Investasi, Thomas Lembong Imbau Pemda DIY Mencontoh Provinsi Lain yang Lebih Maju
TRIBUNJOGJA.COM / Azka Ramadhan
Sekda DIY, Gatot Saptadi, bersama Menteri Perindustrian RI, Airlagga Hartanto dan Kepala BKPM, Thomas Lembong, saat peluncuran implementasi KLIK tahap III di Hotel Alana, Sleman, pada Senin (12/03) malam 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - DIY menjadi satu provinsi yang masuk dalam perluasan implementasi Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi (KLIK).

Selain DIY, langkah yang dilakukan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI itu, juga meliputi sejumlah daerah lain.

Kepala BKPM, Thomas Lembong, mengatakan bahwa penambahan 15 kawasan industri, termasuk DIY, sekaligus menambah daftar kawasan industri yang dapat dimanfaatkan oleh investor, yang hendak melakukan percepatan dalam investasinya.

"Tambahan 15 kawasan industri sebagai implementasi KLIK, memiliki luas lahan 1.459,85 hektare, yang berlokasi di delapan provinsi dan 12 kabupaten-kota, dimana terdapat tambahan dua provinsi dan delapan kabupaten-kota," katanya, Selasa (13/3/2018).

Thomas menuturkan, payung hukum dari peluncuran tersebut, ditetapkan melalui penerbitan Keputusan Kepala BKPM Nomor 41 Tahun 2018, tentang Perubahan kedua SK Kepala BKPM Nomor 24 Tahun 2016, tentang penetapan kawasan industri tertentu, untuk kemudahan investasi langsung konstruksi.

"Dengan begitu, totalnya, sampai saat ini, menjadi 47 kawasan industri, yang telah ditetapkan sebagai lokasi implementasi KLIK, dengan total lahan yang tersedia seluas 14.996,85 hektare," tuturnya.

Mengenai tingkat investasi DIY yang masih tertinggal dari provinsi lain, Thomas mengimbau instansi penanaman modal di pemerintahan setempat, bisa mencontoh daerah-daerah lain yang sudah lebih maju.

Satu dari beberapa yang bisa ditempuh, lanjutnya, membuka akses perizinan secara online, sehingga lebih mudah diproses.

"Kemudian, infrastruktur harus memadai, dari listrik, air, sampai angkutan. Tapi, yang menjadi tantangan adalah, terkait faktor sumber daya manusia, utamanya keterampilan," cetusnya.

"Karena itu, kami akan terus berupaya, memastikan kawasan industri sudah berkembang, investor masuk, pekerja kita bisa menikmati lapangan pekerjaan, dengan penghasilan yang lebih tinggi," tambah Thomas.

Menurutnya, kawasan industri Piyungan, Bantul, memiliki potensi besar untuk mendatangkan investor, baik dari dalam, maupun manca negara.

Di samping itu, ia melihat peluang Yogyakarta di bidang pariwisata dan lifestyle, yang terdongkrak melalui ekonomi digital.

"Sekarang kan eranya milenial. Orang gemar jalan-jalan, selfie, wefie dan video blog. Yogyakarta punya modal ke situ. Saya kira itu semakin besar, semakin banyak. Pertumbuhan investasi internasional di bidang pariwisata, tahun lalu mencapai 45 persen," ungkapnya.

Menteri Perindustrian RI, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa perkembangan sektor industri yang semakin strategis, dengan tantangan industri modern 4.0, membutuhkan langkah aktif pemerintah, untuk menyediakan lokasi bagi bagi industri-industri yang berorientasi ekspor, high tech dan lifestyle.

"Perlu perluasan KLIK di seluruh kawasan-kawasan industri yang sudah dibangun di sejumlah daerah, terutama di luar Pulau Jawa. Sehingga, pemerataan seluruh Indonesia itu bisa tercapai," ungkapnya. (*)

Penulis: aka
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help