KOBAR Salurkan Sembako dari Penonton Jogja Music Session ke Buruh Gendong Pasar Kranggan

Kolaborasi Aktivis Budaya Yogyakarta (KOBAR) menyalurkan donasi sembako penonton Jogja Music Session kepada buruh gendong pasar Kranggan

KOBAR Salurkan Sembako dari Penonton Jogja Music Session ke Buruh Gendong Pasar Kranggan
ist
Kolaborasi Aktivis Budaya Yogyakarta (KOBAR) pagi ini menyalurkan donasi sembako penonton Jogja Music Session kepada buruh gendong pasar Kranggan Yogyakarta. 

TRIBUNJOGJA.COM - Kolaborasi Aktivis Budaya Yogyakarta (KOBAR) menyalurkan donasi sembako penonton Jogja Music Session kepada buruh gendong pasar Kranggan Yogyakarta.

Hadir puluhan buruh gendong, lurah pasar Sungkana serta sejumlah aktivis KOBAR seperti Indra Tranggana, Sanggar Seni Gita Gilang, Surasa Khocil Birawa, Wawan Isnawan, Agung Budyawan, Rismanto, Reno Hendrawan, Tulis, dan Beni.

Dalam rilis yang diterima tribunjogja.com, KOBAR mencoba membuat tradisi pengumpulan sembako saat digelar event budaya untuk kemudian disalurkan kepada sektor-sektor marjinal masyarakat.

Mengapa pasar Kranggan dan bukan pasar Bringharjo? Pasar Bringharjo sebagai pasar terbesar sudah banyak tersentuh/digarap banyak kalangan. Kranggan relatif belum.

Dan ada satu alasan historis, mendiang Sultan HB IX pernah memberikan tumpangan ke pedagang pasar Kranggan dan bahkan ikut menjunjung menurunkan barang2 bawaannya.

Tatkala hendak diberi upah oleh si pedagang, Sultan menolak dan langsung pergi. Si pedagang menggerutu, "wong arep diwenei duit kok ragelem..." katanya.

Rupanya ada yang pirso bahwa orang tersebut adalah Sinuwun, maka se isi pasar geger, si pedagang sontak pingsan.

Kisah nyata ini tertulis di buku "Tahta Untuk Rakyat."

Jadi tatkala datang kemari, ini seperti napak tilas, untuk mengenang sekaligus meresapi nilai-nilai kearifan pemimpin Yogya.

Kepemimpinan yang merakyat, kesederhanaan, andap asor, ringan tangan, solider, peduli sesama, sepi ing pamrih rame ing gawe.

Itulah nilai-nilai ke-Yogya-an yang perlu terus kita tiru dan praktekkan sekarang ditengah mengerasnya jaman akibat menguatnya arus individualistik, hedonistik dan pragmatisme. (*)

Editor: dik
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help