Melalui Seni Tari, Anter Asmorotedjo Jaga Kearifan Lokai

Pada tahun 2017, Anter sempat direkomendasikan menjadi icon dalam menari 24 jam dalam World Dance Day di ISI Surakarta.

Melalui Seni Tari, Anter Asmorotedjo Jaga Kearifan Lokai
istimewa
Anter Asmorotedjo saat berlaga di atas panggung 

Laporan Calon Reporter Tribun Jogja, Siti Umaiyah

TRIBUNJOGJA.COM - Menjadi penari dan koreografer menjadi satu di antara cara Anter Asmorotedjo menjaga nilai tradisi yang ada di nusantara.

Kecintaannya pada seni tari, mengantarkannya menjadi penari sekaligus koreografer yang sudah melalang buana ke lebih dari 30 negara.

Berawal dari sanggar yang ada di kampungnya Bumen, Purbayan, Kotagede, Yogyakarta, Anter mulai belajar cara menari sejak usia 8 tahun.

“Tahun 1983, awalnya bapak saya yang menyuruh saya ikut di sanggar yang ada di kampung. Jadi awalnya saya belajar tarian perempuan, Tari Bondan dan Tari Golek. Soalnya kebanyakan yang ikut sanggar juga perempuan,” ungkapnya saat ditemui Tribunjogja.com, Minggu (11/3/2018).

Sebenarnya, Anter kecil lebih berminat kepada wayang.

Mulai dari mengkliping gambar wayang di majalah, bermain umbul wayang, maupun menonton wayang.

Namun, bapaknya yang memiliki latar belakang seni, mendorongnya untuk lebih mendalami dunia tari.

“Waktu masih kecil saya seringnya menari di acara Agustusan, acara di kampung maupun waktu ada mantenan. Awalnya dulu juga hanya bisa menari tradisi gaya Surakarta, seperti Gambir Anom, Minak Jinggo dan Klono Topeng,” terangnya.

Tahun 1992 Anter mulai ikut sanggar Rahmisari dibawah Ramayana Ballet Purawisata.

Halaman
123
Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved