Home »

Jawa

Krida Beksa Wirama, Pentas Tarian Jawa Klasik Ceritakan Akulturasi Tionghoa

Krida Beksa Wirama (KBW) sanggar pertama di luar keraton dan termasuk sanggar tertua menggelar pentas pertunjukan tari akulturasi Jawa Tionghoa.

Krida Beksa Wirama, Pentas Tarian Jawa Klasik Ceritakan Akulturasi Tionghoa
Tribun Jogja/ wahyu Setiawan Nugroho
Penampilan tarian Dewandhini -Sih Pie yang merupakan pembuka awal mula kebudayaan tionghoa masuk ke Indonesia. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Wahyu Setiawan Nugroho

TRIBUNJOGJA.COM - Krida Beksa Wirama (KBW) sanggar pertama di luar keraton dan termasuk sanggar tertua menggelar pentas pertunjukan tari akulturasi Jawa Tionghoa di Pendopo Agung Royal Ambarukmo Yogyakarta (RAY) Senin (19/2/2018) malam.

Sanggar yang menjadi wadah berlatih tari para perempuan baik dari usia anak hingga dewasa ini menampilkan sekira 5 tarian khas jawa.

Tema malam itu ialah akulturasi budaya Jawa Tionghoa dan sekaligus memperingati hari Imlek untuk kaum tionghoa.

"Akulturasi dengan tionghoa yaitu kita menampilkan tarian yang menceritakan tentang awal masuknya budaya tionghoa di Indonesia yakni saat Kerajaan Singosari menantang Kaisar Mongol, Kubilai Khan," papar Yuri, Media Relation KBW kepada tribunjogja.com.

"Hal itu menunjukkan bahwa pengaruh tionghoa sangat besar di Indonesia, berkembang dan sudah ada sejak zaman dahulu hingga sekarang," lanjutnya.

Dalam penampilannya malam itu, dibuka dengan penampilan 5 penari cilik, yakni tarian nawung sekar yang menunjukkan dasar latihan menari Jawa klasik.

Dilanjutkan dengan tarian Golek Kinyo Tinembe oleh 5 penari usia remaja yang gemulai dengan memiliki makna keceriaan para putri yang tengah bersolek.

Tarian ketiga yakni tarian inti, tarian Dewandhini - Sih Pie yang memiliki latar cerita pertarungan Prabu Kartanegara yang menantang Kubilai Khan, kaisar Mongol yang saat itu berjaya di daratan Tiongkok.

Dilanjutkan dengan penampilan tarian Sari Tunggal, yang memberi gambaran ragam tari yang mengajarkan gerakan dasar tari klasik Jawa khas gaya Yogyakarta.

Di penghujung pentas, tarian Sulung Dayung yang menggambarkan keluwesan para putri dewasa dalam bersolek mampu memukau para tamu undangan yang hadir untuk menyaksikan pentas malam itu.

Didukung oleh Royal Ambarukmo, KBW melalui pentas ini ingin mengajak para anak dan perempuan dewasa untuk mencintai budaya jawa lewat tari tradisional jawa klasik.

"Harapannya mulai dari anak hingga perempuan dewasa bisa mencintai budaya jawa melalui tarian jawa klasik ini dan kita belajar menari dengan bersenang-senang," pungkasnya. (tribunjogja)

Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help