Home »

News

» Sains

Misteri Kutukan Firaun : Inilah Bukti dan Deretan Korbannya, Apakah Hanya Kebetulan?

Banyak kalangan yang percaya adanya kutukan firaun, sebagian lagi tak yakin kebenarannya. Ini bukti-buktinya

Misteri Kutukan Firaun : Inilah Bukti dan Deretan Korbannya, Apakah Hanya Kebetulan?
IST
Kutukan Firaun 

Sebelum meninggalkan pelabuhan menuju ke Kairo dia melihat makam itu. Keesokan harinya dia terserang demam tinggi dan dua belas jam kemudian dia meninggal.

Baca juga:

Radiolog Archibald Reid, seorang pria yang memanfaatkan teknik sinar X yang mutakhir untuk menentukan usia dan kemungkinan penyebab kematian Tutankhamun, dikirim kembali ke Inggris setelah mengeluh kelelahan.

Tak lama setelah mendarat dia meninggal.

Sekretaris pribadi Carnarvon, Richard Bethell, ditemukan mati di tempat tidurnya akibat gagal jantung empat bulan setelah menemukan pemakaman itu.

Malapetaka terus berlanjut. Joel Wool, seorang usahawan Inggris ternama saat itu, mengunjungi tempat itu dan ditemukan mati beberapa bulan kemudian akibat demam yang tidak dikuasai para dokter.

Enam tahun kemudian, dua belas dari mereka yang hadir saat pemakaman dibuka, telah mati.

Selama tujuh tahun kemudian hanya dua dari tim semula yang masih hidup.

Saudara tiri laki-laki Lord Carnarvon tampaknya mencabut nyawanya sendiri ketika menjadi gila dan selanjutnya dari 21 orang yang terlibat dalam proses penggalian itu, hanya tersisa Howard Carter yang hidup hingga usia lanjut dan meninggal secara alami pada tahun 1939.

Yang lain tidak begitu beruntung.

Kematian kebetulan?

Sementara, tak terhitung ahli Mesir dan akademika berupaya merontokkan kisah legenda kutukan itu menjadi sekedar mitos, yang lain terus menerus menjadi korban pengaruhnya.

Mohammed Ibrahim, direktur Mesir di bidang antik pada tahun 1966 bertengkar dengan pihak pemerintah karena telah membiarkan harta karun pemakaman itu keluar dan Mesir untuk dipamerkan di Paris.

Dia memohon pemerintah tetap menahan peninggalan itu di Kairo karena telah mengalami mimpi buruk tentang apa yang akan menimpa dirinya jika harta peninggalan itu meninggalkan negaranya.

Ketika Ibrahim meninggalkan rapat terakhir bersama dengan para petinggi pemerintah, dia melangkah ke jalan di suatu hari yang bersinar cerah.

Tiba-tiba sebuah mobil menabraknya. la tewas seketika.

Mungkin kasus paling aneh yang terjadi adalah kasus Richard Adamson yang pada tahun 1969 merupakan satu-satunya anggota yang masih hidup sejak ekspedisi tahun 1923 itu.

Adamson telah kehilangan isterinya dalam waktu 24 jam setelah berbicara menentang kutukan itu.

Putranya mengalami patah punggung dalam kecelakaan pesawat udara ketika ia membahasnya kembali.

Masih bersikap skeptis, Adamson, yang bekerja sebagai satpam bagi Lord Carnarvon, menolak kutukan itu dan ketika diwawancarai televisi Inggris, masih mengatakan bahwa dia tidak percaya akan kutukan itu.

Di malam itu juga, ketika meninggalkan studio televisi, dia terlempar keluar taksi ketika terjadi kecelakaan dan sebuah kereta lori yang lewat hampir saja mengenai kepalanya.

Dia dimasukkan rumah sakit karena patah tulang dan cedera.

Baru setelah itu Tuan Adamson yang angkuh dan berusia 70 tahun itu terpaksa mengakui, "Sampai sekarang yang menolak percaya bahwa nasib sial yang menimpa keluarga saya, ada kaitannya dengan kutukan itu. Sekarang saya menjadi ragu-ragu."

Mungkin perwujudan yang paling mengejutkan terjadi di tahun 1972, ketika harta karun pemakaman itu dipindahkan ke London untuk dipamerkan di Museum Inggris yang terhormat itu.

Korban pertama adalah dr. Gamal Mehrez, pengganti almarhum Mohammed Ibrahim yang seluruh hidupnya dihabiskan di Mesir.

Baca juga:

La mengatakan, kematian dan kemalangan yang terjadi selama puluhan tahun hanya kebetulan belaka.

Setelah mengawasi pengepakan benda bersejarah itu untuk dikirim ke Inggris dengan pesawat udara Royal Air Force, dia meninggal mendadak malam itu juga.

Awak pesawat itu mengalami kematian, cedera, nasib sial dan malapetaka selama bertahun-tahun setelah penerbangan terkutuk itu.

Letnan penerbang Rick Laurie meninggal tahun 1976 karena serangan jantung.

Isterinya menegaskan, "Kutukan Tutankhamun telah membunuhnya."

Ken Parkinson, insinyur mesin, menderita serangan jantung setiap tahun pada waktu yang sama ketika terbang di pesawat Britannia yang membawa harta karun itu ke Inggris, hingga terjadi kecelakaan fatal tahun 1978.

Padahal, sebelum pergi ke Mesir, tidak seorang pun di antara awak pesawat menderita gangguan jantung dan sudah dinyatakan sehat oleh para dokter militer.

Selama penerbangan, kepala teknis Ian Lansdown menendang sebuah kotak berisi topeng kematian putra raja itu. "Saya baru saja menendang barang termahal di dunia," ujarnya.

Ketika turun dari pesawat, tangga di bawahnya patah secara misterius dan tungkainya yang menendang kotak tersebut mengalami patah tulang.

Tungkainya dibalut gips selama hampir enam bulan.

Letnan udara Jim Webb, yang berada di pesawat kehilangan seluruh harta miliknya ketika rumahnya habis terbakar.

Seorang pramugara Brian Rounsfall mengaku telah bermain kartu di peti mati Tutankhamun dalam perjalanan pulang. la menderita dua kali serangan jantung.

Seorang prajurit wanita di pesawat terpaksa meninggalkan RAF (Royal Air Force) setelah mengalami operasi yang serius.

Misteri itu terus berlanjut. Apakah seluruh korban selama bertahun-tahun itu hanya sebuah kebetulan belaka?

Atau apakah para imam penjaga rahasia makam itu benar-benar memancarkan daya supernatural yang menimbulkan begitu banyak penderitaan bagi mereka yang telah melanggar makam suci itu serta menjatuhkan hukuman berat bagi perusak makam raksasa sang raja yang telah wafat?

Teori paling menarik yang menerangkan legenda kutukan ini diajukan ilmuwan atom Louis Bulgarini di tahun 1949.

Dia menulis sebagai berikut, "Ada kemungkinan besar orang Mesir purba telah memanfaatkan radiasi atom untuk melindungi tempat-tempat suci mereka.

Lantai pemakaman mungkin telah dilapisi dengan uranium.

Atau kuburan itu ditutupi dengan batu radioaktif. Batu karang yang mengandung emas dan uranium merupakan hasil tambang di Mesir.

Radiasi yang dipancarkan sanggup membunuh seorang dewasa.”

Sumber : Intisari

Editor: mon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help