Gerobak Baru PKL Malioboro Harus Punya Nilai Filosofis

Nasrul mengatakan bahwa dirinya lebih condong agar PKL tetap berada di Malioboro dengan beberapa penyesuaian

Gerobak Baru PKL Malioboro Harus Punya Nilai Filosofis
Tribun Jogja/ Bramasto Adhy
Pekerja membersihkan gerobak pedagang kaki lima (PKL) milik Pemkot Yogyakarta di Balai Metrologi, Yogyakarta, Selasa (13/2). Gerobak PKL berjumlah 150 buah tersebut akan dibagikan untuk PKL Malioboro 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Anggota Komisi B DPRD Kota Yogyakarta, Nasrul Khoiri, mengapresiasi bentuk perhatian pemerintah kepada Pedagang Kaki Lima (PKL) dengan memberikan bantuan berupa gerobak.

Menurutnya, penataan Malioboro sebagai bagian dari penataan sumbu filosofis, maka sudah seharusnya memperhatikan dan melibatkan banyak komponen.

"Penataan tentunya tidak hanya sebatas fisik namun nilai filosofi dan nilai artistik juga harus di kedepankan," jelasnya, Selasa (13/2/2018).

Politisi PKS tersebut menambahkan, oleh karena itu rencana pemerintah menyeragamkan gerobak PKL merupakan bagian dari penataan Maliboro.

"Pertimbangan para pedagang juga perlu diakomodir karena sebagai user tentunya mereka menginginkan gerobak yang fungsional yakni bisa digunakan dan nyaman dipakai," urainya.

Selain itu, lanjutnya, ada baiknya bila aspek penyeragaman ditonjolkan pada corak dan ornamen artistik yang memunculkan kekhasan Yogyakarta, bukan diseragamkan pada bentuk gerobak seluruh PKL.

"Bukan pada bentuknya karena bisa jadi berbeda jenis PKL, berbeda pula kebutuhan bentuk gerobaknya," tegasnya.

Disinggung memgrnai relokasi PKL, Nasrul mengatakan bahwa dirinya lebih condong agar PKL tetap berada di Malioboro dengan beberapa penyesuaian.

"Saya lebih sepakat pedagang tetap di Jalan malioboro karena itulah kekhasan Malioboro selama ini," tutup Nasrul. (*)

Penulis: kur
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help