Tangani Kasus Stunting Nan Tinggi, Kulonprogo Diintervensi Kementerian Kesehatan

Kulonprogo termasuk dalam daftar 100 kabupaten/kota yang dinilai butuh intervensi stunting oleh Kementerian Kesehatan.

Tangani Kasus Stunting Nan Tinggi, Kulonprogo Diintervensi Kementerian Kesehatan
internet
ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Kulonprogo menjadi satu di antara kabupaten di Indonesia yang menjadi pilot project penanganan kasus stunting (bayi pendek) dari pemerintah pusat.

Kepala Dinas Kesehatan Kulonprogo, Bambang Haryatno membenarkan tersebut.

Menurutnya, Kulonprogo termasuk dalam daftar 100 kabupaten/kota yang dinilai butuh intervensi stunting oleh Kementerian Kesehatan.

Hal ini didasarkan pada riset kesehatan dasar dari Kemenkes pada 2013 lalu yang menyebut kasus stunting di Kulonprogo cukup tinggi dan perlu program khusus untuk penanganannya.

Program intervensi itu dilakukan pada tahun ini, di antaranya dengan pemantauan 1000 hari pertama kehidupan anak yang beberapa waktu telah digelar sosialisasinya.

"Ada 10 desa dari 88 desa di Kulonprogo yang akan diamati perkembangannya. Kami sudah ada data by name by address kasus stunting," kata Bambang, Kamis (8/2/2018).

Kesepuluh desa tersebut tersebar di beberapa wilayah kecamatan. Yakni di Galur (Desa Nomporejo), Sentolo (Tuksono), Pengasih (Karangsari dan Sendangsari), Nanggulan (Donomulyo), dan Samigaluh (Kebonharjo, Sidoharjo, Gerbosari, Ngargosari, Pagerharjo).

Adapun hingga Desember 2017 lalu, kasus gizi buruk sebagai penyebab dominan kasus stunting di Kulonprogo sebanyak 34 kasus.

Angka itu cenderung meningkat jika dibandingkan jumlah kasus pada 2016 yang sebanyak 29 kasus, 2015 24 kasus, 2014 35 kasus.

Jumlah kasus terbanyak muncul pada 2013 di mana ada 75 kasus gizi buruk.

Halaman
12
Penulis: ing
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help