Bekas Penambangan Mangaan di Kulonprogo Direncanakan Jadi Destinasi Wisata Budaya

Kawasan bekas penambangan itu sendiri membentang dalam luasan 8.860 meter persegi di Kliripan.

Bekas Penambangan Mangaan di Kulonprogo Direncanakan Jadi Destinasi Wisata Budaya
TRIBUNJOGJA.COM / Singgih Wahyu
Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta melakukan pengamatan atas sebuah luweng yang merupakan mulut gua terowongan vertikal bekas penambangan mangaan di Kliripan. Mulut terowongan sedalam sekitar 80 meter itu kini tergenang air. 

TRIBUNJOGJA.COM - Keberadaan bekas tambang mangaan dan berbagai peralatan penambangan di Kliripan, Kulonprogo diusulkan sebagai benda cagar budaya (BCB) oleh Pemerintah Kabupaten Kulonprogo kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPBC) Yogyakarta.

Tim BPCB Yogyakarta bersama Dinas Kebudayaan Kulonprogo, Pemerintah Desa dan Kelompok Kerja Hargorejo pun meninjau lokasi situs bekas penambangan mangaan tersebut, Kamis (8/2/2018).

Tim tersebut melakukan pengamatan, pengukuran dan pendokumentasian seluruh benda yang diduga termasuk kategori cagar budaya tersebut.

"Kami belum bisa menyimpulkan apakah ini termasuk cagar budaya atau bukan karena itu perlu kajian mendalam. Sekarang ini kami sebatas mendata dan akan dilaporkan kepada pimpinan untuk selanjutnya dikaji," kata Ketua Unit Kerja Penyelamatan dan Pengamanan Cagar Budaya, BPCB DIY, Dendi Eka.

Ia menuturkan, sesuai Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, informasi yang ada terkait tambang mangaan itu belum bisa langsung jadi dasar untuk menyatakannya sebagai cagar budaya.

Walaupun tambang bahan mineral untuk campuran besi dan baja itu telah berdiri lebih dari 50 tahun, pihaknya perlu melakukan penelitian terlebih dulu menyangkut nilai pentingnya bagi sejarah dan kebudayaan.

Kajian dan penelitian akan menggandeng instansi terkait pertambangan dan para ahli sehingga ada dasar kuat untuk penetapannya sebagai cagar budaya.

Namun demikian, pihaknya menilai kawasan tambang itu memiliki keunikan dengan adanya terowongan vertikal.

Dalam bayangan masyarakat awam, terowongan umumnya hanya berbentuk horizontal dalam kegiatan penambangan mineral.

Belum diketahui pula apakah terowongan vertikal itu digunakan untuk akses masuk dan keluar penambangan atau ada fungsi lain.

Halaman
12
Penulis: ing
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help