Diberhentikan Sepihak, Puluhan PHL Pemkab Bantul Mengadu ke Pemda DIY

Sekda DIY meminta waktu selama satu pekan, untuk mencoba merampungkan polemik ini.

Diberhentikan Sepihak, Puluhan PHL Pemkab Bantul Mengadu ke Pemda DIY
TRIBUNJOGJA.COM / Azka Ramadhan
Kedatangan puluhan Pegawai Harian Lepas (PHL) dari sejumlah dinas dan instansi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bantul diterima Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Gatot Saptadi (berbaju putih) dan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) DIY, Agus Supriyanto, di Bangsal Wiyoto Projo, Kepatihan, Komplek Kantor Gubernur DIY, Yogyakarta, Jumat (12/1/2018) sore. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Puluhan Pegawai Harian Lepas (PHL) dari sejumlah dinas dan instansi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bantul, mengadukan masalah Pemberhentian Hak Kerja (PHK) yang mereka terima, kepada Pemerintah Daerah (Pemda) DIY.

Kedatangan mereka, diterima langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Gatot Saptadi dan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) DIY, Agus Supriyanto, di Bangsal Wiyoto Projo, Kepatihan, Komplek Kantor Gubernur DIY, Yogyakarta, Jumat (12/1/2018) sore.

Dalam pertemuan itu, Kepala BKD DIY, Agus Supriyanto, lebih dahulu mempersilakan para tenaga honorer Pemkab Bantul tersebut, untuk menceritakan secara gamblang, terkait persoalan yang mereka alami.

Seorang PHL yang turut serta dalam audiensi, Raras Rahmawatiningsih tampak tak kuasa menahan linangan air mata, saat mencurahkan isi hatinya kepada para pemangku kebijakan di tingkat provinsi tersebut.

"Saya sudah 12 tahun mengabdi. Cuma digaji Rp 1.050.000, tanpa jaminan kesehatan. Kita tidak menuntut apapun. Kita hanya ingin dipekerjakan kembali. Kalau memang kami punya kesalahan, kami minta ditunjukkan, dimana letaknya," ujar perempuan 44 tahun itu.

Ironisnya, kisah Raras, tiga pekan sebelum di-PHK secara sepihak, ia sempat menerima seragam keki baru.

Dirinya pun mengungkapkan, upah minim yang didapatnya selama ini, sangat berguna bagi kelangsungan hidup, terutama untuk tambahan biaya perkuliahan anaknya.

"Terus, ini mau buat apa? Buat selimut? Saya sedih, Pak. Saya sedih, saat anak-anak menangis, mengetahui ibunya tidak bekerja lagi," ujarnya sembari menunjukan baju seragam yang masih terbungkus plastik.

Sementara itu, di hadapan peserta audiensi, Sekda DIY, Gatot Saptadi, meminta waktu selama satu pekan, untuk mencoba merampungkan polemik ini.

Walaupun tidak bisa menjanjikan apa-apa, ia memastikan setiap aspirasi yang masuk, akan ditindaklanjuti dengan seksama.

"Silakan, nanti perwakilan dari teman-teman, tiga, atau lima orang, bisa menemui saya, untuk menanyakan progresnya sudah sampai mana. Bisa langsung ke saya, atau ke Kepala BKD," pungkasnya. (*)

Penulis: aka
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help