Survey : Makin Banyak Penderita Sindrom Takut Kehabisan baterai Ponsel, Termasuk Kamu?

Nyaris separuh dari responden menyebutkan bahwa perasan takut kehabisan baterai ponsel ini kian parah dalam lima tahun terakhir.

Survey : Makin Banyak Penderita Sindrom Takut Kehabisan baterai Ponsel, Termasuk Kamu?
giphy
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.com - Tampaknya kecanduan terhadap gawai makin ke sini makin parah. Bahkan kini muncul sindroma baru, yang disebut sindrom takut kehabisan baterai ponsel. Sebuah kondisi kekhawatiran dan kepanikan yang berlebihan menghadapi situasi saat baterai ponsel mulai menipis.

Ini diketahui lewat sebuah survey yang dilakukan baru-baru ini.

Nyaris separuh dari responden menyebutkan bahwa perasan takut kehabisan baterai ponsel ini kian parah dalam lima tahun terakhir.

Dalam survey yang dilakukan oleh O2, terungkap pula bahwa 40 persen responden setidaknya membawa satu atau lebih power bank yang digunakan setiap kali indikator baterai mulai menunjukan tanda-tanda berkurang.

Temuan lainnya dari survey yang dilaksanakan pada bulan Agustus 2017 itu menyebutkan bahwa perasaan takut kehabisan baterai juga sama besarnya dengan ketakutan seseorang jauh dari ponsel itu sendiri.

Mereka menyebutnya dengan istilah 'Kecemasan Terpisah dari Ponsel'.

Bagi banyak, mengunggah status di facebook, twitter maupun mengunggah foto di instagram merupakan bagian dari pengalaman kehidupan mereka sehari-hari. Itu merupakan salah satu media untuk memperlihatkan eksistensi dan memberi pesan bahwa 'aku ada'. Sehingga jika mereka hidup tanpa ponsel, maka mereka merasakan seperti halnya kehilangan salah satu anggota badan mereka.

Periset dari Univesitas Sungkyunkwan Hongkong menyebut istilah ini dengan sebutan Nomophobia.

Hal ini akan semakin parah lantaran ponsel akan semakin personal.

Ciri-cirinya, seseorang tak pernah mematikan ponselnya, memeriksa ponsel terus menerus, mengisi baterai ponsel tanpa henti, dan bagi mereka yang sering membawa ponselnya ke kamar mandi.

Periset memperingatkan bahwa tren ini cenderung makin parah. (*)

Editor: mon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help