Kiper Muda PSIM Ini Siap Jadi Benteng Terakhir Pertahanan Skuat Laskar Mataram

Mau tidak mau, ia harus menjadi benteng terakhir skuat Laskar Mataram.

Kiper Muda PSIM Ini Siap Jadi Benteng Terakhir Pertahanan Skuat Laskar Mataram
ist/PSIM
Agung Santoso 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Memasuki 2018, tugas berat sudah menanti Agung Santoso bila kembali dipanggil PSIM Jogja untuk menjajaki kompetisi tahun ini.

Mau tidak mau, ia harus menjadi benteng terakhir skuat Laskar Mataram.

Sebagai kiper termuda, ia harus memikul beban berat lantaran menjadi hanya tersisa dirinya dan Ivan Febrianto yang berada di posisi kiper.

Setelah Ony Kurniawan memutuskan gantung sepatu setelah kompetisi 2017 berakhir, praktis tersisa Ivan dan Agung lantaran Tito Rama Maydhike dipastikan absen karena cedera lutut yang dialaminya.

Sebagai kiper yang masih muda, Agung mengakui terbatasnya pengalamannya menjajaki kompetisi profesional.

Terlebih menjelang akhir 2017 ia baru mendapatkan kesempatan bermain di liga pasca Tito mengalami cedera di tengah putaran babak play off.

Meski bangga bisa bermain di kompetisi nasional, namun ia masih merasa minder mengingat September lalu merupakan penampilan perdananya. Terlebih ia terhitung junior jika dibandingkan dengan penggawa PSIM Jogja lainnya.

“Minder itu pasti, apalagi kemarin itu penampilan pertama saya di kompetisi profesional,” kata dia.

Namun ia diberikan untuk berani dan menguatkan mental. Penjaga gawang kelahiran Klaten, 27 Juli 1999 ini mengakui banyak hal yang harus ia pelajari.

Sebagai pertahanan terakhir tim, ia menyadari menjadi kiper harus tenang dan pantang panik. Pasalnya, sekali panik maka gawang tim menjadi taruhannya.

Di sisi lain, ia juga dituntut bisa mengatur posisi bek yang merupakan benteng dari gawangnya sebelum ia berhadapan dengan pemain lawan yang menggocek kulit bundar.

Namun disadarinya, untuk jadi seperti itu ia harus banyak berlatih dan memiliki jam bermain yang tinggi.

“Jika terlalu sering panik, berarti kiper belum siap bermain. Saya masih butuh banyak pengalaman,” kata Agung yang mengidolakan Kurnia Meiga, kiper Timnas senior Indonesia.

Pensiunnya Ony dan cederanya Tito memang membuat PSIM di ambang krisis penjaga gawang. Namun senior sekaligus mentornya, Ony, terus meyakinkan kiper muda ini. (*)

Penulis: ang
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved