TribunJogja/

Mulai Harga Rp 80 Ribu, Sudah Bisa Berkeliling Malioboro Dengan Andong Khas Yogyakarta

Kendaraan yang bermesin hewan berupa kuda ini menjadi salah satu kendaraan tradisional yang ada di Yogyakarta selain becak.

Mulai Harga Rp 80 Ribu, Sudah Bisa Berkeliling Malioboro Dengan Andong Khas Yogyakarta
tribunjogja/wahyu setiawan nugroho
Andong kendaraan wisata tradisional Yogyakarta yang ada di jalan malioboro tengah menunggu pelanggan. 

Laporan Reporter Tribunjogja.com, Wahyu Setiawan Nugroho

TRIBUNJOGJA.COM YOGYA - Berkeliling Yogyakarta tentunya menjadi hal yang wajib dikunjungi saat berwisata di kota pelajar sekaligus kota budaya ini.

Hampir setiap sudut kota memiliki nilai tersendiri. Mulai dari kuliner tradisional, kreatifitas anak mudanya, fashion dengan batiknya, keramahan masyarakatnya juga menjadi sebuah nilai jual dalam wisata di Yogyakarta.

Namun, menjadi unik dan sebuah pengalaman berkesan ketika mengelilingi Yogyakarta menggunakan kendaraan tradisional salah satunya yaitu Andong.

Ya, kendaraan yang bermesin hewan berupa kuda ini menjadi salah satu kendaraan tradisional yang ada di Yogyakarta selain becak.

Selain itu andong tetap memegang teguh prinsip sebagai kendaraan tradisional yang tetap menjaga kekhasan dari andong dari masa ke masa.

Tak seperti, angkutan tradisional lain yang telah berganti dengan mesin meski tak semuanya.

"Andong sudah ada dari dulu, jaman kakek nenek saya, bapak saya dulu juga kusir," Ujar Pariyadi satu diantara kusir Andong yang biasa mangkal di jalan Malioboro.

Pariyadi biasa berhenti dan menunggu pengguna jasa andongnya disekitaran depan mal malioboro Yogyakarta. Mulai dari wisatawan domestik hingga mancanegara sering menggunakan jasa andongnya.

"Kalau domestik keliling Malioboro sepanjang jalan ini terus ke sebelah barat pusat oleh-oleh bakpia dan balik sini lagi ya biasanya Rp80-Rp100 ribu sekali jalan," ungkapnya kamis (14/12/2017).

"Bisa muat 5-7 orang sekali jalan," tambahnya.

Andong yang merupakan kendaraan sehari-hari pada zaman dulu, kini sudqh berubah funsinya yaitu sebagai kendaraan wisata yang menjadj daya tarik tersendiri.

Tak perlu khawatir kemahalan, penentuan tarif pun tak ada yang mengaturnya namun tawar menawar dengan wisatawan secara langsung menjadi solusi terbaik.

"Kalau kita nggak ada patokan tarif, wisatawan maunya kemana nanti tawar-menawar harga cocok terus jalan," lanjutnya saat ditemui tribunjogja.com di andongnya.

"Kadang ada yang minta muter malioboro saja, ada yang komplit dari tugu, malioboro sampai keraton bahkan pernah juga ada yang minta keliling yogya sampai di pojok-pojok beteng," akunya. (*)

Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help