TribunJogja/

Mengenal Pelatih Tim Sepakbola Putri DIY Sonya Januari Putri, Seperti Inilah Sosoknya

Pelatih kelahiran Bandung 28 tahun silam ini baru menekuni olahraga sepakbola sekira dua tahun

Mengenal Pelatih Tim Sepakbola Putri DIY Sonya Januari Putri, Seperti Inilah Sosoknya
ist/dok.pri
Sonya Januari Putri 

TRIBUNJOGJA.COM - Women Football Road To Asian Games Pertiwi Cup 2017 bukan hanya sebagai ajang unjuk gigi bagi para pesepakbola wanita dari berbagai penjuru Nusantara, adapula sosok yang menarik perhatian pada perhelatan ini.

Adalah pelatih kepala tim sepakbola putri Daerah Istimewa Yogyakarta, Sonya Januari Putri, yang turut beradu strategi dengan pelatih laki-laki dari berbagai tim kontestan pada gelaran kali ini.

Pelatih kelahiran Bandung 28 tahun silam ini baru menekuni olahraga sepakbola sekira dua tahun, setelah memperoleh lisensi Level 1 AFC. Sebelumnya, Sonya menekuni olahraga futsal sejak ia duduk di bangku kuliah.

"Sebelum futsal saya sempat menekuni voli, tapi karena saya sadar postur tubuh saya pendek akhirnya saya putuskan serius menekui olahraga futsal saja. Saya pikir meski badan saya kecil tapi kecepatan saya kemungkinan bisa bersaingdi futsal," ujar Sonya.

Meski telah menorehkan berbagai prestasi mulai dari Kejurnas, liga antar mahasiswa, dan mendapat gelar individual sebagai pemain terbaik ataupun top scorer, Sonya memutuskan untuk tidak melanjutkan karir sebagai pemain setelah masuk dunia kerja. Menurutnya, jika ia meneruskan karir sebagai pemain, tentu ia tidak akan bisa fokus pada pekerjaan utamanya.

"Saya juga pernah cedera lutut, dan tidak sembuh. Akhirnya saya pilih menekuni dunia kepelatihan," ujar Sonya.

Menurut Sonya, sosok sang ayah yang juga merupakan seorang pelatih sepakbola membuatnya tertarik untuk menjadi juru racik strategi. Meski sang ayah berkarir di kompetisi kasta bawah, namun tekad sang ayah untuk memajukan sepakbola membuat Sonya terpacu mengikuti jejak sang ayah.

"Mungkin ayah saya baru bisa sampai tahap itu, saya harus bisa lebih," ujar Sonya.

Berbeda dengan pesepakbola laki-laki, menurut Sonya sebagai pelatih tim sepakbola putri memiliki beban yang lebih berat. Pasalnya, kendala terberat adalah meyakinkan orangtua agar mau melepas putrinya untuk bermain sepakbola.

Menurut Sonya, meyakinkan orangtua itu bukanlah hal mudah, apalagi bila kedua orangtua tidak memiliki latar belakang sebagai atlet.

Selain hal tersebut, Sonya juga harus sabar menangani pesepakbola wanita yang tidak jarang baper alias bawa perasaan.

"Kalau wanita lagi PMS itukan emosinya tidak stabil, jadi mudah tersinggung. Wania itu berbeda, mereka kalau galau terbawa juga ke lapangan, jadi mainnya juga terpengaruh. Kalau cowok ada masalah di luar lapangan kan nggak dibawa masuk ke lapangan," ujar Sonya.

Sonya memiliki penanganan khusus untuk menghadapi hal ini. Menurutnya, karena ia sebagai wanita tentu ia juga lebih bisa memahami kondisi anak asuhnya.

"Kitanya harus pendekatan lebih. Setidaknya saya wanita, pemain saya juga wanita. Saya lebih tahu perasaan mereka sehingga saya harus berlaku sebagai ibu mereka dan sebagai teman mereka," ungkap Sonya. (*)

Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help