TribunJogja/
Home »

DIY

» Sleman

Empat Orang Memberikan Kesaksian dalam Sidang Praperadilan Konflik Gua Pindul

Empat orang yang bersaksi dalam persidangan yakni Agus Hartadi, Zealus Siput Lokasari, Dadang Iskandar, dan Suwandi Cahyo Saputro.

Empat Orang Memberikan Kesaksian dalam Sidang Praperadilan Konflik Gua Pindul
NET | Google Images
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Empat orang memberikan kesaksian dalam sidang praperadilan konflik Gua Pindul di Pengadilan Negeri (PN) Sleman, Kamis (7/12/2017).

Keempat saksi tersebut diantaranya Agus Hartadi, Zealus Siput Lokasari, Dadang Iskandar, dan Suwandi Cahyo Saputro.

Dalam sidang yang dipimpin hakim tunggal Satyawati Yun Irianti tersebut, Zealus Siput, kakak ipar Atiek Damayanti yang mengklaim sebagai pemilik lahan memberikan kesaksian hampir dua jam lamanya.

Siput menjelasakan, obyek wisata Gua Pindul sudah jelas ilegal karena tidak atas seizin pemilik lahan yaitu Atiek Damayanti.

Lanjutnya, oleh karena itu pada tanggal 12 Februari 2014 adiknya melaporkan enam orang ke Polres Gunungkidul tentang adanya dugaan pengusahaan sumber daya air tanpa izin di tanah yang diklaim milik Atiek tersebut.

Adapun enam orang yang dilaporkan saat itu antara lain, Bupati Gunungkidul Badingah, Wakil Bupati Imawan Wahyudi, Sekretaris Daerah saat itu Budi M, penyedia jasa wisata Gua Pindul Subagya, Haris, dan Warman.

Setelah pelaporan tersebut, pihak Polres Gunungkidul menetapkan seorang tersangka bernama Subagya dan proses penyidikannya dilimpahkan ke Polda DIY.

Seiring berjalannya waktu, tepatnya pada tanggal 18 Maret 2015 pihaknya mendapat informasi bahwa Polda DIY menghentikan penyidikan berkas Subagya berdasarkan Surat Ketetapan tentang Penghentian Penyidikan (SP3) Nomor : S.Tap/4a/III/2015/Ditreskrimsus.

"Penyidik ada keraguan karena Subagya usaha penyewaan ban ada izin dan dianggap bukan kejahatan. Justru bannya itu alat kejahatan, mestinya ban dijadikan alat bukti. Dan yang mengeluarkan izin harus diperiksa karena digunakan untuk wisata air," jelasnya.

"Ban itu fasilitas, tapi yang dijual wisata air. Sedangkan izin seperti itu tidak bisa keluar kalau tidak ada izin dari pemilik," tegasnya.

Siput pun menjelaskan bahwa dua bidang tanah di Gua Pindul dengan total luas satu hektare tersebut dibeli almarhum adiknya dan istrinya Atiek pada tahun 1999.

Dalam gua tersebut terdapat budidaya sarang burung walet.

Namun, karena pada 2010 ada aktivitas wisata tanpa seizin Atiek, sarang burung walet tersebut rusak dan tidak menghasilkan.

Dua portal beton yang ada di bibir gua pun dirusak.

Sempat melaporkan kejadian tersebut, namun Polisi memutuskan menghentikan penyidikan. (*)

Penulis: app
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help