TribunJogja/

Bupati Kulonprogo : Pelajari Tahapan Pembangunan Bandara dan Lihat Suara Rakyat dari 2 Sisi

Dengan mengetahui setiap tahapan pembangunan, diharapkan semua pihak bisa memandang secara berimbang atas proyek pembangunan tersebut.

Bupati Kulonprogo : Pelajari Tahapan Pembangunan Bandara dan Lihat Suara Rakyat dari 2 Sisi
TRIBUNJOGJA.com / Hening Wasisto
Sejumlah aparat kepolisian tengah mengepung sejumlah warga dan penolak bandara NYIA. Mereka ditangkap karena memperlambat jalannya pengosongan lahan bandara, Selasa (5/12/2017). 

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Proyek pembangunan bandara di Temon saat ini sedikit memanas seiring masih kencangnya penolakan sebagian warga terdampak.

Upaya pengosongan lahan pada awal pekan lalu berujung bentrok antara warga, aktivis solidaritas, dan aparat keamanan.

Semenjak itu, proyek itu mendapat sorotan deras dari berbagai kalangan.

Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo meminta semua pihak untuk turut mendinginkan suasana.

Ia juga mengajak semua pihak untuk mempelajari kronologi tahapan pembangunan bandara tersebut yang sudah diawali sejak 2014 itu secara seksama.

"Agar semua memperlajari kronologi tahapan dari tahun 2014. Jangan melihat sepotong-sepotong," ujar Hasto, Kamis (7/12/2015).

Selain itu, masyarakat juga dimintanya untuk tidak berat sebelah.

Dalam artian, selain mengetahui penolakan yang sebenarnya dilakukan segelintir warga, masyarakat juga diminta untuk mendengarkan suara rakyat banyak yang sama-sama tergusur dari proyek tersebut.

Pembangunan bandara itu memang menggusur 512 kepala keluarga (KK) dari lima desa terdampak yakni Glagah, Palihan, Sindutan, Jangkaran, dan Kebonrejo.

Dari jumlah itu, 326 KK memilih ikut dalam program relokasi yang difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Kulonprogo dan Pemerintah DIY sedangkan lainnya memilih relokasi mandiri serta ada sebagian yang masih melakukan penolakan proyek tersebut.

Dengan mengetahui setiap tahapan pembangunan serta suara warga terdampak dari dua sisi, diharapkannya semua pihak bisa memandang secara berimbang atas proyek pembangunan tersebut.

"Tentu itu agar semua ballance imbang. Objektif dan ilmiah. Juga, jatuhnya tidak menyesatkan," katanya.(*)

Penulis: ing
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help