TribunJogja/
Home »

Jawa

Pemkab Magelang Minta Ada Solusi bagi Mata Air dan Perekonomian di Wilayah Terdampak Tol

Pelaksana proyek perlu memilikirkan dampak perekonomian yang ditimbulkan agar tidak mematikan usaha kecil di sekitar tol.

Pemkab Magelang Minta Ada Solusi bagi Mata Air dan Perekonomian di Wilayah Terdampak Tol
TRIBUNJOGJA.COM / Rendika Ferri K
Konsultasi publik Analisis Masalah dan Dampak Lingkungan (Amdal) pembangunan Jalan Tol Bawen - Yogyakarta di rumah makan Progosari, Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Senin (4/12/2017). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Pemerintah Kabupaten Magelang meminta pembangunan Tol Bawen - Yogyakarta agar dipersiapkan secara matang.

Hal ini untuk mengantisipasi dampak dari pembangunan tol baik dari aspek lingkungan seperti mata air dan lahan pertanian, termasuk dari aspek ekonomi agar tidak mematikan perekonomian di wilayah terdampak pembangunan tol.

Hal tersebut dikatakan oleh Wakil Bupati Magelang, M Zaenal Arifin.

Pihaknya tidak mempermasalahkan adanya pembangunan Jalan Tol Bawen Yogyakarta melalui Kabupaten Magelang.

Kendati demikian, dikatakannya, pembangunan tol tersebut mau tidak mau akan membawa dampak kepada wilayah yang dilalui tol sepanjang 77 kilometer tersebut.

"Rencana pembangunan tol tersebut harus dipersiapkan matang-matang, karena pastinya akan membawa dampak sosial ekonomi kepada masyarakat," ujar Zaenal Arifin, Senin (4/12/2017) saat konsultasi publik penyusunan Amdal Pembangunan Tol Bawen Yogyakarta di rumah makan Progosari, Pabelan, Mungkid, Kabupaten Magelang.

Lanjut Zaenal, satu di antara yang menjadi sorotannya adalah keberadaan mata air yang ada di sepanjang wilayah terdampak pembangunan tol.

Pihak pelaksana harus memperhatikan keberlangsungan mata air di daerah yang dilalui pembangunan.

"Ada banyak sekali mata air yang dilalui tol tersebut, jangan sampai malah mematikan sumber air tersebut. Pasalnya mata air tersebut menjadi sumber air bagi masyarakat di sekitarnya," ujarnya.

Selain itu, Zaenal juga meminta agar pelaksana untuk memikirkan terkait lahan pertanian produktif yang dilalui pembangunan tol agar tetap terjaga keberadaanya.

"Jangan sampai dengan adanya tol, pariwisata akan meningkat, namun justru pertanian akan turun. Kami minta, irigasi kecil untuk sawah tidak diuruk, agar tetap berfungsi dan dialiri irigasi," ujarnya.

Zaenal juga menyoroti keberlangsungan UMKM di sepanjang wilayah terdampak pembangunan tol.

Menurutnya, pelaksana proyek perlu memilikirkan dampak perekonomian yang ditimbulkan agar tidak mematikan usaha kecil di sekitar tol.

"Ketika ada jalan tol, pasti ada perubahan alur jalan, semula lewat secang barangkali ada pom bensim atau kaki lima tidak dilalui, itu akan mematikan mereka. Keberadaan tol ini juga mengancam wilayah Ambarawa akan mati. Sehingga harus ada solusi, kaki lima yg ada di secang mertoyudan kalau tidak ada kendaraan yg lewat, tentu akan mati. Itu harus dipikirkan," tuturnya.(*)

Penulis: rfk
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help