TribunJogja/

Disdikpora Canangkan Sekolah Aman Di Gunungkidul

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak, dan mengatasi segala masalah yang dihadapi oleh siswa di sekolah.

Disdikpora Canangkan Sekolah Aman Di Gunungkidul
TRIBUNJOGJA.COM / Tris Jumali
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul mengundang siswa-siswi SMK untuk mengikuti seminar tentang pembentukan sekolah anti kekerasan di Aula Dinas Disdikpora Gunungkidul, Senin (13/11/2017). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Tris Jumali

TRIBUNJOGJA.COM - Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul mengundang siswa siswi SMK untuk mengikuti seminar tentang pembentukan sekolah anti kekerasan di Aula Dinas Disdikpora Gunungkidul, Senin (13/11/2017).

Pembentukan sekolah aman ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak, dan mengatasi segala masalah yang dihadapi oleh para siswa saat berada di sekolah.

"Kami dari Dinas akan mengusahakan pembentukan sekolah aman ini dengan membuat surat edaran, dan segera melakukan pengawasan dalam pembentukannya," ucap Sugiran, Penilik Madya Pendidikan Usia Dini Disdikpora.

Selain itu ia pun menyampaikan akan membuat tim pencegahan kekerasan, maupun kanal informasi, sehingga apabila terjadi kekerasan diluar sekolah, tidak menutup kemungkinan korban bisa langsung menghubungi.

"Kasus kekerasan di sekolah juga banyak yang tidak terungkap, tingkat kekerasan yang diketahui masih sangat rendah," ungkap Sugiran.

Sugiran mencontohkan kekerasan yang bisa saja terjadi diantaranya yaitu kekerasan yang dilakukan oleh seorang guru terhadap siswanya, pelecehan seksual, dan apabila ada anak yang melanggar tata tertib sekolah langsung disuruh untuk mengundurkan diri.

"Anak sekolah itu bisa juga sebagai pelaku sekaligus korban. Sekolah yang tingkat kerawanannya paling tinggi itu biasanya berada di daerah pinggiran, karena ada perpaduan daerah yang berbeda," tuturnya.

Ia akan menghimbau kepada sekolah-sekolah yang ada untuk melibatkan siswa dalam pembuatan tata tertib, dengan begitu para siswa bisa mendapatkan pemahaman dan kesadaran akan tata tertib itu sendiri.

"Sementara ini masih untuk sederajat SMA, tapi kita juga akan menghimbau di SD maupun SMP untuk membuat SOP-nya terlebih dahulu terkait pencegahan kekerasan," jelasnya.

Dengan terbentuknya sekolah aman ini, Sugirman berharap prestasi para siswa dapat meningkat, begitu juga karakter yang terbentuk dari sekolah aman tersebut, karena apabila siswa maupun siswi sudah merasa aman di sekolahnya, mereka bisa menjadi lebih fokus dalam belajar.

Menurutnya kekerasan di sekolah yang paling sering terjadi di Gunungkidul adalah kekerasan verbal, hal tersebut bisa berdampak ketidaknyamanan siswa saat berada di sekolah, bahkan kadang ada kasus seorang siswa tidak mau pergi ke sekolah karena menjadi korban kekerasan verbal. (*)

Penulis: trs
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help