TribunJogja/

Siapa 2 Pria di Samping Bocah Kecil Ini? Ternyata Mereka Sosok Penting di Kehidupan Anies Baswedan

Pria tua yang berada di sisi kiri adalah kakeknya, Abdurrahman Baswedan, yang ia sebut ayahnya ayah.

Siapa 2 Pria di Samping Bocah Kecil Ini? Ternyata Mereka Sosok Penting di Kehidupan Anies Baswedan
Tribun Jogja/ Kurniatul Hidayah
Gubernur DKI Jakarta terpilih, Anies Baswedan, mendatangi Kraton Kilen Ngayogyakarta Hadiningrat, Selasa (18/7/2017) malam 

TRIBUNJOGJA.COM - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengunggah sebuah foto lawas, berwarna hitam putih di Hari Ayah tahun 2017, yang jatuh pada Minggu (12/11/2017).

Dua pria dewasa, satu di antaranya terlihat sudah tua, berdiri di belakang bocah laki-laki yang sedang asyik memegang sesuatu.

Seperti TribunJogja.com kutip dari akun Instagram Anies, ternyata bocah kecil itu adalah dirinya di saat masih kecil.

Pria tua yang berada di sisi kiri adalah kakeknya, Abdurrahman Baswedan, yang ia sebut ayahnya ayah.

Sedangkan pria berkumis yang memakai kemeja putih adalah ayah Anies, yakni Rasyid Baswedan.

Di Hari Ayah ini, Anies bercerita panjang lebar tentang besarnya peran dua laki-laki itu dalam kehidupannya.

Ayah dan kakeknya membentuk karakter Anies, mengajarinya untuk suka membaca dan memberikan pemahaman bagaimana arti perjuangan untuk negeri.

Di akhir postingannya, Anies mengucapkan Selamat Hari Ayah.

Saat ditanya warganet tahun berapa foto itu diambil, Anis menjawab sekitar tahun 1971 atau 1972.

Berikut postingan lengkapnya.

"Namanya Rasyid Baswedan, Ayah adalah pribadi yang amat stabil, lempeng dan tegas. Di siang hari bekerja keras, mengajar di sekolah dan kampus. Di malam hari jadi penutur dongeng bagi anak-anaknya. Dongengnya penuh variasi mulai dari yang lucu hingga cerita sedih atau cerita menegangkan. Semua adalah dongeng karangannya sendiri.

Meja makan di rumah jadi saksi ayah mengijinkan anak2nya diskusi & debat, termasuk bila berbeda pandangan dengannya. Beliau tidak mengatur pikiran, tapi mengatur cara & adab dalam mengungkapkan pikiran.

Dengan diboncengkan vespa, Ayah antarkan saya yg masih duduk di bangku SD untuk jadi anggota perpustakaan di Harian Kedaulatan Rakyat. Hari Minggu, sama-sama membersihkan vespa dan sebulan sekali menguji mesin sambil membersihkan busi mesin vespa.

Ayah selalu menjaga semangat utk terus berjuang dan tetap teguh walau ada hantaman. Pesannya: "Kalau mau bebas hantaman ya duduk2 santai aja di rumah; kalau berjuang maka tantangan & hantaman adalah kenormalan". .

Abdurrahman Baswedan, Ayahnya Ayah. Kami sekeluarga, Ayah—Ibu dan tiga anak, menempati satu kamar di rumah Kakek. Kadang2 suka heran, bgmn bisa sekamar diisi 5 orang; tp waktu itu biasa2 saja dan semua enjoy.

Karena serumah, maka saat masih di bangku TK, Kakek selalu jemput dan langsung ajak jalan kaki ke kantor pos. Tiap hari beliau ke kantor pos, kirim surat atau kirim artikel utk koran atau majalah sambil olahraga. Ada sebuah pesan singkat dari Kakek: "Begitu ada waktu senggang maka baca, baca buku apapun. Jangan buang waktu tanpa baca."

Suatu ketika, saya duduk di bangku kelas 4 SD, paman ditangkap karena dia aktivis mahasiswa yg memprotes NKK-BKK. Dari UGM dibawa ke Semarang. Ditahan beberapa bulan oleh Kopkamtib tanpa proses pengadilan dll. Ayah rutin menjenguk bawa buku dan makanan. Kakek ikut mendirikan Republik ini, dan saat-saat anak bungsunya itu ditahan oleh pemerintah republik ini, ia berpesan pada semua keluarga: jangan pernah khawatir; ini konsekuensi sebuah perjuangan, biasa saja. Berani melawan, maka berani ditahan.

Itulah Ayah dan Ayahnya Ayah. 
Selamat Hari Ayah !! *ABW.

#HariAyah #HariAyahNasional." (*)

Penulis: say
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help