TribunJogja/

Produksi Turun, Harga Garam di Gunungkidul Menyusul Naik

Terjadi kenaikan harga garam seminggu terakhir, semenjak memasuki musim penghujan.

Produksi Turun, Harga Garam di Gunungkidul Menyusul Naik
TRIBUNJOGJA.COM/RENDIKA FERRI
Seorang warga melintas di lokasi pengeringan garam di Pantai Sepanjang, Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul, Jumat (15/9/2017). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Harga garam di pasaran Gunungkidul mengalami kenaikan menyusul ketersediaan garam yang terus berkurang, karena produksinya yang menurun.

Seorang pedagang sembako di Pasar Argosari, Wonosari, Gunungkidul, Dwi S, menuturkan, terjadi kenaikan harga garam seminggu terakhir, semenjak memasuki musim penghujan.

Harga garam jenis grosok yang semula dihargai Rp 68.000 per 20 kilogram, naik sebesar Rp 2.000 menjadi Rp 70.000 per sak.

Sementara untuk garam konsumsi, yang semula Rp 6.000 per pak, naik Rp 1.000 menjadi Rp 7.000 per pak.

"Sudah semnggu ini mengalami kenaikan, rata-rata naik Rp 1.000-2.000. Kenaikan tersebut dari pengepul," ujar Dwi, Jumat (13/10/2017).

Dwi mengatakan, tidak mengetahui secara pasti penyebab kenaikan harga garam tersebut.

Namun, dari pasokan yang ada memang berkurang.

Ia menduga karena produksi garam yang menurun.

"Mungkin karena musim hujan ini produksi garam menjadi turun. Biasanya lancar stoknya, namun mulai kurang mendekati musim penghujan ini," ujarnya.

Dwi mengatakan, kendati mengalami kenaikan, namun kenaikan ini tidak setinggi harga garam pada bulan Juli hingga Agusutus 2017 lalu, di mana harga garam grosok melonjak tajam menjadi Rp 90.000 per 20 kg.

Sementara untuk garam konsumsi melonjak menjadi Rp10.000 per pak.

Dia pun berharap agar kenaikan ini tidak berlangsung lama, karena dapat menyusahkan masyarakat.

"Semoga dapat ditambahkan stoknya, sehingga harga dapat stabil," tuturnya.(*)

Penulis: rfk
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help