TribunJogja/
Home »

DIY

Menikmati Sejarah dari Keberadaan Sepeda Onthel

Sepeda-sepeda bersejarah ini bisa disaksikan langsung di BBY sejak 13 hingga 22 Oktober 2017 mendatang.

Menikmati Sejarah dari Keberadaan Sepeda Onthel
TRIBUNJOGJA.COM / Yudha Kristiawan
Pengunjung nampak melihat sejumlah sepeda kuno yang dipamerkan di BBY dalam pembukaan pameran Foto dan Pit Onthel SAREKAT ONTHEL di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), Jumat (13/10/2017). 

Laporan Reporter Tribun Jogja Yudha Kristiawan

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pembukaan pameran Foto dan Pit Onthel SAREKAT ONTHEL di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) malam ini berlangsung meriah.

Sepeda-sepeda kuno yang akan dipamerkan terlebih dahulu diarak oleh pemiliknya masing masing lalu ditempatkan di ruang pameran BBY dengan iringan musik tradisional.

Satu persatu kedatangan sepeda kuno atau kerap disebut Pit Onthel ini disambut sangat meriah mirip acara hajatan khitanan di desa.

Sepeda-sepeda yang memiliki sejarah panjang dan banyak yang diproduksi sebelum Indonesia merdeka ini bisa disaksikan langsung di BBY selama pameran berlangsung dari malam ini hingga 22 Oktober 2017 mendatang.

Oyok Rusdianto, Komandan Komunitas Onthelis Jadul yang  koleksinya ikut dipamerkan di sela pembukaan pameran menuturkan, melalui pameran seperti ini, para penggemar pit onthel dan masyarakat luas bisa lebih dekat menikmati keunikan dan membaca sejarah masing masing sepeda yang kaya akan ilmu pengetahuan.

Satu dari 15 koleksi sepeda Oyok yang dipamerkan adalah Kendrick TWS (two wheel steering) buatan tahun 1936 pabrikan Belanda.

Menurut Oyok, pada zamannya dulu, sepeda ini dipergunakan untuk belanja karena memiliki desain mirip becak, dua roda di depan dan satu roda di belakang.

Pada bagian depan memiliki semacam keranjang dari besi.

"Sepeda ini warisan orang tua saya. Sebagian memang sudah tidak original, ini memang sangat susah didapat," terang Pria kelahiran 1952 ini.

Kurang lebih selama 10 tahun Oyok Gandrung dengan pit onthel.

Bersama komunitasnya, Oyok kerap mengikuti acara acara heritage di berbagai kota seperti Bandung, Jakarta dan Purwokerto.

"Kami biasa tukar informasi antar komunitas untuk mendapatkan onderdil. Untuk hunting juga sampai mana mana, pokoknya yang ada informasi kita cek dan kalau ok kita datangin liat langsung sepedanya," ujar Oyok. (*)

Penulis: yud
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help