TribunJogja/
Home »

Jawa

Terkait Ojek Online, Kominsta Kota Magelang Masih Mencari Rumusan Tepat

Untuk saat ini, kedua pihak diminta saling menjaga kondusivitas Kota Magelang

Terkait Ojek Online, Kominsta Kota Magelang Masih Mencari Rumusan Tepat
Net
berbagai penyedia layanan ojek online 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Dalam beberapa bulan terakhir, polemik ojek online berbasis aplikasi di Kota Magelang seakan belum menemui solusi pasti.

Berulang kali, awak angkutan konvensional yang tergabung dalam Forum Komunikas Awak Angkutan Magelang (Forkam), melayangkan protes ke Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang, terkait ojek online yang masih beroperasi, meski tidak direkomendasikan.

Forkam pun menuntut ketegasan dari pemerintah daerah setempat, supaya menertibkan ojek online, yang kehadirannya dinilai merugikan awak angkutan konvensional, termasuk angkutan kota (angkot), lantaran mengurangi pendapatan harian mereka.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominsta) Kota Magelang, Catur Budi Fajar, menuturkan bahwa sampai sejauh ini, pihaknya masih membahas bentuk penertiban yang dimaksud.

Sebab, aplikasi mobile ojek online, tidak bisa serta merta ditutup.

Baca: Driver Ojek Online di Magelang Diminta Tidak Kenakan Atribut Karena Ini

"Mereka beroperasi pakai aplikasi, yang tidak bisa kami tutup begitu saja. Pemerintah bisa menutup aplikasi, kalau mengandung unsur SARA dan pornografi. Nah, sedangkan ini, tidak mengandung dua unsur tersebut," katanya, Kamis (12/10/2017).

Walau begitu, Catur bisa memahami apa yang dikeluhkan oleh kedua belah pihak, baik dari angkutan konvensional, maupun online.

Untuk saat ini, ia meminta supaya saling menjaga kondusivitas Kota Magelang, sembari menunggu pemerintah daerah merumuskan kebijakan yang tepat.

"Forkam menginginkan supaya ojek online berhenti beroperasi (di Kota Magelang). Pemkot sudah tidak memberi rekomendasi terkait izin. Satpol PP, selaku penegak Perda, juga masih merumuskan," ucapnya.

Untuk sekarang, lanjut Catur, akan dibuat zona-zona yang menentukan boleh dan tidaknya ojek online beroperasi.

Langkah ini, diharapkan bisa jadi solusi, bagi kedua belah pihak.

Dalam artian, antara transportasi online dan konvensional, sama-sama tidak dirugikan.

"Tergantung kedua belah pihak, nanti mau duduk bersama, diskusi mencari titik temu, atau tidak," ujarnya.

"Di daerah lain, awalnya juga pasti terjadi benturan. Pekalongan beberapa waktu lalu juga sempat geger, mereka berkunjung ke Kota Magelang, mempelajari bersama persoalan ini," tutup Catur. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: aka
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help