TribunJogja/
Home »

Jawa

Kecam Kekerasan terhadap Wartawan, PWI Kota Magelang Tabur Bunga

Aksi kekerasan tersebut melanggar UU No 40/1999 Tentang Pers, khususnya Pasal 4 ayat 3.

Kecam Kekerasan terhadap Wartawan, PWI Kota Magelang Tabur Bunga
TRIBUNJOGJA.COM / Azka Ramadhan
Sejumlah jurnalis yang tergabung dalam PWI Kota Magelang menggelar aksi solidaritas, sebagai buntut dari tindakan kekerasan terhadap rekan seprofesinya, oleh aparat kepolisian dan Satpol PP, di Kabupaten Banyumas, Selasa (10/10/2017) sore. 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Wartawan Indonesia (PWI)'>Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Magelang menggelar aksi solidaritas, sebagai buntut dari tindakan kekerasan terhadap rekan seprofesinya, oleh aparat kepolisian dan Satpol PP, di Kabupaten Banyumas, Selasa (10/10/2017) sore.

Aksi berlangsung sederhana nan khidmat, di Ruang Media Kota Magelang.

Beberapa wartawan dari media cetak, online, radio dan televisi, tampak berkumpul menjadi satu.

Dengan cahaya ruangan yang sengaja diredupkan, suasana berkabung tersaji begitu kental.

Berbagai alat kerja jurnalistik, seperti kamera, notes, recorder, hingga kartu identitas masing-masing wartawan, dikumpulkan di tengah-tengah ruangan.

Sebagai wujud duka dan rasa keprihatinan yang mendalam, bunga lantas ditaburkan tepat di atasnya.

Aksi solidaritas dipimpin langsung oleh Ketua PWI Kota Magelang, Adi Daya Perdana.

Aksi diawali dengan doa bersama untuk keselamatan kerja wartawan dalam menjalankan tugas kejurnalistikan, bagi rekan-rekan wartawan, di manapun dia bertugas.

Dalam kesempatan itu, Kepala Bidang Seni dan Budaya PWI Kota Magelang, yang juga merupakan wartawan media televisi, Widodo, membacakan sebuah syair berjudul 'Sajak Wartawan', karya Norman Adi Satria, secara lugas nan lantang.

"Sebagai wartawan, saya lebih banyak bertanya, daripada menuliskan berita. Karena di ini negeri, berita adalah sari, yang sudah disaring, dalam saringan bungkam, yang celahnya kecil sekali.
Saya bertanya kepada salah satu pejabat pemegang rezim, apakah bapak tidak melas kepada rakyat?
Keluar dari pintu kantornya, dia memanggil... Mas! Saya menengok, dia tersenyum dan: Dor!
Saya tidak ingat lagi…," ucap Norman membacakan syairnya.

Aksi pun diakhiri dengan pernyataan sikap PWI Kota Magelang, yang mengutuk tindakan penghalang-halangan terhadap tugas wartawan dan kekerasan oleh aparat kepolisian dan Satpol PP yang menimpa rekan-rekan sesama jurnalis di Banyumas.

"Kami prihatin dan mengutuk keras aksi kekerasan yang menimpa rekan satu profesi. Sebagai sesama wartawan, kami adakan aksi ini, sekaligus bentuk solidaritas. Dengan harapan, tidak ada lagi kejadian serupa di kemudian hari," tambah Ketua PWI Kota Magelang, Adi Daya Perdana.

Menurut Adi, aksi kekerasan tersebut melanggar UU No 40/1999 Tentang Pers, khususnya Pasal 4 ayat 3, yang berbunyi 'untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh dan menyebarluaskan gagasan dan informasi'.

"Memang, kami tidak bisa mendukung langsung kawan-kawan wartawan di Banyumas. Tapi, melalui aksi di Kota Magelang ini, kami mengirimkan pesan pada Polres dan Pemkab, agar menindak pelaku tindak kekerasan terhadap kawan kami itu," tegasnya.

Seperti diketahui bersama, tindak kekerasan terhadap wartawan oleh aparat, terjadi saat peliputan pembubaran massa aksi demo penolakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Gunung Slamet, di halaman Kantor Bupati Banyumas, pada Senin (9/10/2017) malam silam. (*)

Penulis: aka
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help