TribunJogja/

Sebelum Dipasarkan, Carica Parangtritis Sempat Jalani Trial And Error

Pernah buah pepaya yang direbus terlalu lembek, berbusa bahkan satu ember berisi buah pepaya menjadi busuk sebelum dikemas.

Sebelum Dipasarkan, Carica Parangtritis Sempat Jalani Trial And Error
TRIBUNJOGJA.COM / Susilo Wahid Nugroho
Produk olahan pepaya yang diberi nama Carica Paris diproduksi oleh Arifil Laili warga Semampir, Panjangrejo, Pundong, Bantul, Senin (25/9). Carica ini mirip dengan carica dieng yang bercitarasa manis. 

TRIBUNJOGJA.COM - Setidaknya butuh waktu sekitar enam bulan, agar produk Carica Paris olahan Arifil Laili, warga Semampir, Panjangrejo, Pundong, Bantul dkk layak dipasarkan.

Selama durasi enam bulan tersebut, Laili coba mengolah buah pepaya agar benar-benar layak dikonsumsi.

Trial and error pun kerap terjadi, yang menjadikan buah pepaya terbuang.

Baca: Wow, Warga Bantul Ini Kembangkan Carica ala Parangtritis

Laili bercerita Oktober 2016 ia dikirim oleh pihak desa setempat ke Dieng untuk belajar cara produksi carica.

Usai membawa ilmu yang didapat dari sana, ia mulai praktek produksi carica menggunakan pepaya di Bantul.

"Tapi hasilnya kurang memuaskan, jadi belum bisa dipasarkan," kata Laili.

Kegagalan sudah jadi hal biasa bagi Laili saat itu.

Pernah buah pepaya yang direbus terlalu lembek, berbusa bahkan satu ember berisi buah pepaya menjadi busuk sebelum dikemas.

Atau kemasan yang sudah ditutup plastik justru pecah.

Halaman
12
Penulis: sus
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help