TribunJogja/
Home »

DIY

» Bantul

Mantradisi dan Sanggar Seni Kinanti Sekar Adaptasi Babak Sejarah Perang Jawa

Pertunjukan ini merupakan sebuah adaptasi babak sejarah Perang Jawa (1825-1830) dengan menampilkan Pangeran Diponegoro sebagai lakon utama.

Mantradisi dan Sanggar Seni Kinanti Sekar Adaptasi Babak Sejarah Perang Jawa
TRIBUNJOGJA.COM / Riezky Andhika Pradana
Mantradisi dan Sanggar Seni Kinanti Sekar, bersama sejumlah seniman lain berkolaborasi dalam pertunjukan musik macapat, 'Goro-goro Diponegoro', Kamis, (14/9/2017), pukul 19 30 WIB. Pertunjukan berdurasi 1,5 jam ini bertempat di Ampi Teater Tembi Rumah Budaya, Jalan Parangtritis Km 8,4 Timbulharjo, Pendowoharjo, Sewon, Bantul. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - "Hong wilaheng awighnamastu namasidh, la illaha illah, mantradisi dililani
hanggelar dipanegara" dinyanyikan sebagai pembuka Pementasan musik macapat,' Goro-goro Diponegoro'.

Pertunjukan oleh Mantradisi dan Sanggar Seni Kinanti Sekar ini merupakan sebuah adaptasi babak sejarah Perang Jawa (1825-1830) dengan menampilkan Pangeran Diponegoro sebagai lakon utama.

Peristiwa Perang Jawa merupakan sejarah perebutan kekuasaan Belanda melawan rakyat Jawa dan juga cikal bakal negara Indonesia.

Banyak korban berjatuhan dari kedua pihak yang bertikai. Keduanya mengalami penderitaan besar akibat peperangan besar tersebut.

Ilustrasi pada pertunjukan ini menggunakan bahasa yang lugas.

Menurut Andi Wicaksono sebagai dalang, setelah menyimak konsep pertunjukan yang ditawarkan Mantradisi, porsi dalang adalah sebagai eksekutor.

"intinya adalah pertunjukan musik yang diiringi wayang, sebagai jembatan cerita.

Menurut penulis naskah Paksi Raras Alit, puisi Jawa macapat digunakan sebagai media utama pemaparan cerita, hal ini untuk mengikat lestarinya tradisi penuturan cerita dalam kebudayaan Nusantara.

Sedangkan visual animasi dan musik digital dilibatkan sebagai keluwesan harmonisasi tradisi dan modernitas. (*)

Pertunjukan ini merupakan kreasi baru dalam menyajikan seni sastra-tembang macapat pada panggung pementasan dalam kemasan trans-kultural. Lewat pementasan ini kekuatan tradisi sastra Jawa - tembang macapat, secara artistik divisualkan sebagai tontonan yang kaya dengan lambang dinamika budaya digital. (*)

Penulis: rap
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help