TribunJogja/
Home »

DIY

» Bantul

'Goro-Goro Diponegoro' Pentaskan Karya Adiluhung dengan Kemasan Kekinian

Lewat 'Goro-Goro Diponegoro' kita bisa menilai sendiri bagaimana kondisi macapat hari ini.

'Goro-Goro Diponegoro' Pentaskan Karya Adiluhung dengan Kemasan Kekinian
TRIBUNJOGJA.COM / Riezky Andhika Pradana
Mantradisi dan Sanggar Seni Kinanti Sekar, bersama sejumlah seniman lain berkolaborasi dalam pertunjukan musik macapat, 'Goro-goro Diponegoro', Kamis, (14/9/2017), pukul 19 30 WIB.Pertunjukan berdurasi 1,5 jam ini bertempat di Ampi Teater Tembi Rumah Budaya, Jl. Parangtritis Km 8.4, Timbulharjo, Pendowoharjo, Sewon, Bantul. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pementasan musik macapat,'Goro-Goro Diponegoro' berkisah tentang kegeraman pangeran Diponegoro atas campur tangan Belanda yang merongrong ke dalam pemerintahan Kasultanan Ngayogyakarta.

Selain itu juga diusiknya kediaman Diponegoro di Tegalrejo yang dibakar oleh Belanda.

Kegeraman tersebut akhirnya memicu pada sebuah peperangan besar.

Pangeran Diponegoro kemudian membentuk pasukan besar bersama ribuan rakyat Jawa.

Ia menyusun strategi gerilya dari Goa Selarong.

Korban pun berjatuhan sangat banyak dan berakhir dengan ditangkapnya sang pangeran oleh Jendral De Cock di Magelang.

Menurut penulis naskah, Paksi Raras, perang ini sangat menyita perhatian bangsa Barat, sehingga Belanda mengambil tindakan lebih ketat terhadap gerak-gerik bangsa Indonesia setelahnya.

Para penjajah tidak ingin lagi kecolongan oleh bangkitnya perjuangan perlawanan rakyat, dengan berbagai strategi lanjutan untuk meredam gejolak bangunnya mental 'bertarung' bangsa ini.

Pada Pementasan ini naskah Paksi ingin menyampaikan bahwa dampak Perang Diponegoro masih berasa, bahkan hingga hari ini.

"Impact dari perang Jawa masih terasa, kita masih terkungkung oleh pihak barat. Perlawanan Diponegoro tak bisa dibiarkan oleh Belanda. Jihad Diponegoro sejatinya ingin memurnikan sosio kultur Jawa di tengah rong rongan penjajah," jelasnya.

Selain itu pementasan ini juga ditujukan untuk generasi muda, dengan mengenalkan apa itu macapat.

Lewat 'Goro-Goro Diponegoro' kita bisa menilai sendiri bagaimana kondisi macapat hari ini.

Pertunjukan ini merupakan pementasan karya adiluhung dengan kemasan yang kekinian. (*)

Penulis: rap
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help