TribunJogja/
Home »

Jawa

Lahan Tembakau Menyusut 30 Persen

Pada musim tanam tahun ini, lahan yang digunakan untuk tanam tembakau kurang dari 500 hektare.

Lahan Tembakau Menyusut 30 Persen
TRIBUNJOGJA.COM/ANGGA PURNAMA
Petani di Desa Solodiran, Kecamatan Manisrenggo menjemur daun tembakau yang sudah dirajang, Rabu (13/9/2017) 

TRIBUNJOGJA.COM - Musim kemarau tahun ini merupakan saat ideal untuk menanam tembakau.

Namun tahun ini, jumlah lahan yang digunakan untuk menanam tembakau menyusut lebih dari 30 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Seperti yang terjadi di Kecamatan Manisrenggo, sebagai daerah sentra tembakau di Kabupaten Klaten, memiliki potensi lahan tanam tembakau hingga 700 hektare.

Namun pada musim tanam tahun ini, lahan yang digunakan untuk tanam tembakau kurang dari 500 hektare.

Ketua Koalisi Nasional Penyelamat Kretek (KNPK) Klaten, Aryanta Sigit Suwanto mengatakan kondisi ini dipengaruhi kekhawatiran petani akan kondisi cuaca saat tanam tembakau.

Pasalnya sudah dua tahun petani tembakau mengalami gagal panen lantaran adanya hujan di musim kemarau atau kemarau basah.

"Sehingga banyak yang masih trauma karena harus spekulasi dengan kondisi cuaca. Dampaknya, tidak banyak yang tanam," ungkapnya.

Hal ini dinilai wajar lantaran modal yang harus dikeluarkan petani cukup besar hingga jutaan rupiah setiap petaknya.

Sehingga jika tiba-tiba terjadi anomali cuaca seperti tahun-tahun sebeLumnya, maka petani akan menderita kerugian cukup besar.

Di sisi lain, kondisi ini mengakibatkan pabrik rokok yang menjalin kemitraan dengan petani menjadi kesulitan mendapatkan bahan baku.

Pasalnya kuantitas panen daun tembakau menurun drastis.

"Padahal secara kualitas sangat bagus karena ditunjang dengan cuaca kering. Saat ini baru periode petik daun kedua, tapi kualitasnya sudah sampai grade B, sementara untuk tanaman tembakau bisa sampai 17 kali pemetikan dan diprediksi bisa menembus grade F jika cuaca tetap mendukung," ujar pria yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Solodiran ini. (*)

Penulis: ang
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help